GAMBARAN NILAI LAJU ENDAP DARAH TEGAK LURUS DAN MIRING DENGAN ALAT WESTERGREN PADA INFEKSI TB PARU DENGAN BTA POSITIF DI UPTD RUMAH SAKIT KHUSUS PARU TANJUNG SARI
DOI:
https://doi.org/10.31004/jrpp.v8i1.41138Keywords:
TB Paru, Laju Endap Darah (LED), BTA (Basil Tahan Asam), Posisi Tegak Lurus, Posisi Miring, WestergrenAbstract
Tuberkulosis paru adalah infeksi yang bertahan lama pada jaringan paru-paru yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis. Jumlah kasus tuberkulosis paru meningkat dari 233 (65,45%) pada tahun 2011 menjadi 245 (72,5%) pada tahun 2012, dan kemudian turun sedikit menjadi 236 (67,5%) pada tahun 2013. Westergren adalah metode yang dianjurkan oleh International Committee for Standardization in Hematology (ICSH) karena hasil LED yang diperoleh dalam kondisi normal memiliki nilai yang berbeda dibandingkan dengan metode Wintrobe. Perbedaannya dalam hasil LED tidak terlalu signifikan, tetapi metode Westergren tetap dianggap lebih akurat dan konsisten. Penelitian menggunakan metode deskriptif analitik bertujuan untuk menjelaskan pemeriksaan LED pada tuberkulosis paru. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai LED pada posisi tegak lurus berkisar antara 17 mm/jam hingga 33 mm/jam, dengan nilai rata-rata yang lebih tinggi dan konsisten dari LED maka disimpulkan didapatkan 100 % LED nya tinggi semua. Distribusi cahaya pada posisi tegak lurus lebih merata dan intensitasnya lebih stabil karena gaya gravitasi bekerja searah dengan arah pengendapan eritrosit, sehingga keakuratan pengukurannya lebih terjamin. Sebaliknya, nilai LED pada posisi miring menunjukkan variasi yang lebih besar, dengan kisaran antara 6 mm/jam hingga 20 mm/jam. Kemiringan 45 derajat mengubah pola distribusi cahaya, menyebabkan fluktuasi intensitas di berbagai titik pengukuran dan menghasilkan data yang kurang konsisten serta memerlukan penyesuaian lebih lanjut untuk akurasi.References
Aini, N., Ramadiani, R., & Hatta, H. R. (2017). Sistem Pakar Pendiagnosa Penyakit Tuberkulosis. Informatika Mulawarman : Jurnal Ilmiah Ilmu Komputer, 12(1),
56. https://doi.org/10.30872/jim.v12i1.224
Amanda G. (2018). Tuberculosis Pada Penyebaran Infeksi Tuberkulosis.
Andri, J., Febriawati, H., Randi, Y., J, H., & Setyawati, A. D. (2020). PENATALAKSANAAN PENGOBATANTUBERCULOSIS PARU. Jurnal
Kesmas Asclepius, 2(2), 1–4.
Anggraeni, D. E., & Rahayu, S. R. (2019). Gejala klinis tuberkulosis pada keluarga penderita tuberkulosis BTA positif. Higeia Journal of Public Health Research and Development, 2(1), 91–101. http://journal.unnes.ac.id/sju/index.php/higeia
Buntuan, V. (2014). Gambaran Basil Tahan Asam (Bta) Positif Pada Penderita Diagnosa Klinis Tuberkulosis Paru Di Rumah Sakit Islam Sitti Maryam Manado Periode Januari 2014 S/D Juni 2014. Jurnal e-Biomedik, 2(2).
Dekayana, A. (2019). Hitung Laju Endap Darah (LED) (Vol. 2). Uwais Inspirasi Indonesia. https://books.google.co.id/books?id=rYKGDwAAQBAJ
Dewi, R. A., Zaetun, S., & Jiwantoro, Y. A. (2021). Faktor Koreksi Nilai Laju Endap Darah (LED) Pada Penderita Tuberkulosis Menggunakan Metode Westergren dan Wintrobe. Jurnal Analis Medika Biosains (JAMBS), 8(1), 39.
Dosen Teknologi Laboratotium Medik. (2020). Hematologi Teknologi Laboratorium Medik. In eva ayu Maharani (Ed.), Egc.
Gita, C. R. N., & Mardina, V. (2019). Pemeriksaan Jumlah Leukosit, Laju Endap Darah Dan Bakteri Tahan Asam (Bta) Pada Pasien Penyakit Tuberculosis Paru Di Rsud Langsa. Jurnal Biologica Samudra, 1(2), 6–15.Haris, M., Urip, & Danuyanti. (2017). Studi Variasi Waktu Pengobatan Pasien TB Paru Terhadap Kadar Hemoglobin dan Nilai Laju Endap Darah Di Puskesmas Ubung. Jurnal Analis Medika Bio Sains, 4(2), 4–
Downloads
Published
How to Cite
Issue
Section
License
Copyright (c) 2025 Ricky Ricky

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.