FENOMENA PLEONASME DALAM BAHASA INDONESIA: PERSPEKTIF GAYA BAHASA DAN KALIMAT EFEKTIF

Authors

  • Jendri Mulyadi Universitas Putra Indonesia YPTK

DOI:

https://doi.org/10.31004/jrpp.v4i2.2839

Keywords:

Gaya Bahasa, Pleonasme, Kalimat Efektif

Abstract

Pleonasme dalam bahasa Indonesia dapat dipandang sebagai gaya bahasa. Namun di sisi lain, pleonasme menjadi faktor ketidak efektian kalimat. Pleonasme adalah salah satu gaya bahasa yang kerapkali digunakan dalam bahasa Indonesia. Pleonasme merupakan pemakaian kata yang mubazir (berlebihan). Jika ditinjau dari hakikatnya sebagai gaya bahasa, keberadaan pleonasme dapat dipandang sebagai sebuah kewajaran. Pleonasme sering digunakan oleh penutur untuk mempertegas sebuah pikiran atau memperkuat sifat ekpresif kalimat. Kalimat sebagai sarana penyampaian pesan dalam komunikasi tentunya harus memuat informasi secara lengkap, akurat, dan tidak bertele-tele. Kehematan adalah salah satu ciri yang perlu diperhatikan dalam membentuk kalimat efektif. Dengan demikian, hal ini tentunya berbenturan dengan hakikat pleonasme. Pleonasme secara jelas menunjukkan penggunaan kata-kata secara berlebihan dari yang dibutuhkan. Dilihat dari sudut pandang keefektifan penggunaan unsur bahasa dan kalimat efektif, pleonasme tidak dapat diterima keberadaanya.

Author Biography

Jendri Mulyadi, Universitas Putra Indonesia YPTK

Fakultas Ilmu Komputer Universitas Putra Indonesia YPTK

References

Akhadiah, Sabarti, dkk. 2003. Pembinaan Kemampuan Menulis Bahasa Indonesia. Jakarta: Erlangga.

Alfian, Khusnul Fatonah. (2020). Analisis Kesalahan Penggunaan Kalimat Baku dan Kalimat Efektif dalam Karangan Argumentasi Siswa SMA Kelas XII PPLS di BKB Nurul Fikri Kranggan Bekasi. Eduscience, Volume 5 Nomor 2, Februari 2020.

Ardian, Muhammad Imron. (2017). Analisis Ketidakefektifan Kalimat dalam Karangan Siswa Hasil Pembelajaran Menulis Petunjuk di SMP 3 Kedungwuni. Jurnal LingTera, 4 (2), 2017, 163-176. DOI: https://doi.org/10.21831/lt.v4i2.13633

Badudu.1989. Inilah Bahasa Indonesia yang Benar III. Jakarta: Gramedia.

Badudu, JS. 2004. Stop Pleonasme. Jakarta: Intisari. http://endonesa.wordpress.com/lentera-sastra/majas/. Diakses pada hari Kamis, 19 November 2009, pukul 20.45. WIB.

Chaer, Abdul. 1993. Pembakuan Bahasa Indonesia. Jakarta: RinekaCipta.

Chaer, Abdul. 1994. Pengantar Linguistik Umum. Jakarta: Rineka Cipta.

Departemen Pendidikan Nasional. 2007. Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ketiga. Jakarta: Balai Pustaka.

Keraf, Gorys. 2000. Diksi dan Gaya Bahasa. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Kridalaksana, Harimurti. 2008. Kamus Linguistik Edisi Keempat. Jakarta: Gramedia.

Pateda, Mansoer. 2001. Semantik Leksikal. Jakarta: Rineka Cipta.

Permendiknas.2009. Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan. Yogyakarta: Pustaka Timur.

Pradopo, Rachmat Djoko. 2009. Beberapa Teori Sastra, Metode Kritik, dan Penerapannya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Sapraningtyas, Dyah Hanum. 2019. “Analisis Ketidakefektifan Kalimat pada Teks dalam Buku Paket Bahasa Indonesia SMP Kurikulum 2013 Revisi 2017”. Skripsi: Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Semarang.

Semi, Atar. 2009. Menulis Efektif. Padang: UNP Press.

Sudaryanto. 1993. Metode dan Aneka Teknik Analisis Bahasa, Pengantar Penelitian Wahana Kebudayaan Secara Linguistik. Yogyakarta: Duta Wacana University Press.

Tarigan, Henry Guntur. 2013. Pengajaran Gaya Bahasa. Bandung: Angkasa.

Waridah, Ernawati. 2008. EYD dan Seputar Kebahasa-Indonesiaan. Jakarta: Kawan Pustaka.

Zamzani.(1985). Pleonasme Pemborosan dalam Tindak Berbahasa. Cakrawala Pendidikan, No. 2 Vol. IV 1985, 41-52. DOI: https://doi.org/10.21831/cp.v2i2.7416

Downloads

Published

2022-01-05