HUBUNGAN HbA1C DAN DERAJAT ULKUS DIABETIKUM PADA PASIEN DM TIPE 2

Authors

  • Hanifah Nurul Izzah Fakultas Kedokteran Universitas Swadaya Gunung Jati, Universitas Swadaya Gunung Jati
  • Nihayatul Amaliyah Fakultas Kedokteran Universitas Swadaya Gunung Jati, Universitas Swadaya Gunung Jati1
  • Iskandar Sarumpaet Fakultas Kedokteran Universitas Swadaya Gunung Jati, Universitas Swadaya Gunung Jati

DOI:

https://doi.org/10.31004/prepotif.v10i1.56327

Keywords:

derajat ulkus diabetikum, diabetes melitus tipe 2, HbA1c, RSUD Waled

Abstract

Ulkus diabetikum merupakan komplikasi kronik dari diabetes melitus yang berkontribusi besar terhadap peningkatan morbiditas dan risiko amputasi. Di Indonesia, prevalensi ulkus diabetikum terus meningkat seiring dengan buruknya kontrol glikemik pasien. Salah satu indikator penting dalam menilai kontrol glikemik adalah HbA1c, di mana kadar ≥7% menunjukkan kontrol yang tidak adekuat dan meningkatkan risiko komplikasi mikrovaskular, termasuk ulkus diabetikum. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kadar HbA1c dengan derajat ulkus diabetikum pada pasien diabetes melitus tipe 2 di RSUD Waled. Penelitian ini menggunakan metode observasional analitik dengan desain cross sectional, memanfaatkan data sekunder dari rekam medis periode Januari 2022 hingga Mei 2024. Populasi penelitian adalah pasien diabetes melitus tipe 2 dengan ulkus diabetikum yang menjalani rawat inap dan rawat jalan, dengan jumlah sampel sebanyak 141 responden yang dipilih menggunakan teknik total sampling sesuai kriteria inklusi dan eksklusi. Variabel bebas adalah kadar HbA1c, sedangkan variabel terikat adalah derajat ulkus diabetikum berdasarkan klasifikasi Meggitt-Wagner classification. Data dianalisis menggunakan uji korelasi Spearman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki kadar HbA1c kategori buruk (63,8%). Uji Spearman menunjukkan adanya hubungan signifikan antara kadar HbA1c dan derajat ulkus diabetikum (p=0,000) dengan kekuatan korelasi lemah dan arah positif (r=0,387). Disimpulkan bahwa semakin tinggi kadar HbA1c, semakin berat derajat ulkus diabetikum pada pasien.

References

Akyuz, S., Mutlu, A. B., Guven, H. E., & Basak, A. M. (2023). Elevated HbA1c level associated with disease severity and surgical extension in diabetic foot patients.

Decroli, E. (2019). Diabetes melitus tipe 2. Pusat Penerbitan Bagian Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Andalas.

International Diabetes Federation. (2019). IDF diabetes atlas (9th ed.). International Diabetes Federation.

Krisnadi, A.D. (2015). Kelor Super Nutrisi. Blora: Morindo Moringa Indonesia.

Letlora, J.A.S., Sineke, J., & Purba, R.B. (2020). Bubuk Daun Kelor sebagai Formula Makanan Balita Stunting. Jurnal GIZIDO, 12(2): 105-112. https://ejurnal.poltekkes-manado.ac.id/index.php/gizi/article/download/1256/877

Margawati, A., & Astuti, A.M. (2018). Pengetahuan Ibu, Pola Makan dan Status Gizi pada Anak Stunting Usia 1-5 Tahun di Kelurahan Bangetayu, Kecamatan Genuk, Semarang. Jurnal Gizi Indonesia, 6(2): 82-89. https://doi.org/10.14710/jgl.6.2.82-89

Muliawati, D., Sulistyawati, N., & Utami, F.S. (2019). Manfaat Ekstrak Moringa Oleifera Terhadap Peningkatan Tinggi Badan Balita. Prosiding Seminar Nasional: Pertemuan Ilmiah Tahunan Politeknik Kesehatan Karya Husada Yogyakarta, 1(1): 46-55. http://jurnal.poltekkesjogja.ac.id/index.php/PSN/article/view/371

Mulyasari, I., & Setiana, D.A. (2016). Faktor Risiko Stunting pada Balita. Jurnal Gizi dan Kesehatan, 8(20): 160-167

Nabilla, D.Y., dkk. (2022). Pengembangan Biskuit “Prozi” Tinggi Protein dan Kaya Zat Besi untuk Ibu Hamil sebagai Upaya Pencegahan Stunting. Jurnal Amerta Nutrition, Vol. 6(1SP): 79-84. https://doi.org/10.20473/amnt.v6i1SP.2022.79-84

Nisa, Latifa Suhada. (2018). Kebijakan Penanggulangan Stunting di Indonesia. Jurnal Kebijakan Pembangunan, 13(2): 173-179

Olo, A., Mediani, H.S., & Rakhmawati, W. (2021). Hubungan Faktor Air dan Sanitasi dengan Kejadian Stunting pada Balita di Indonesia. Jurnal Obsesi: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, 5(2): 1113-1126. https://doi.org/10.31004/obsesi.v5i2.521

Perhimpunan Endokrinologi Indonesia. (2021). Pedoman pengelolaan dan pencegahan diabetes melitus tipe 2 di Indonesia 2021. PB PERKENI.

Persatuan Rumah Sakit Seluruh Indonesia. (2019). Data kematian dan amputasi akibat ulkus diabetikum di Indonesia. PERSI.

Sherwood, L. (2016). Human physiology: From cells to systems (9th ed.). Cengage Learning.

Suastidewi, P. A., & Dwipayana, I. M. (2020). Hubungan kadar HbA1c terhadap derajat kaki diabetik pada pasien kaki diabetik di RSUP Sanglah tahun 2015–2016.

UK Prospective Diabetes Study (UKPDS) Group. (1998). Intensive blood-glucose control with sulphonylureas or insulin compared with conventional treatment and risk of complications in patients with type 2 diabetes. The Lancet, 352(9131), 837–853. https://doi.org/10.1016/S0140- 6736(98)07019-6◻

World Health Organization. (2022). Diabetes fact sheet. World Health Organization.

Downloads

Published

2026-03-26

How to Cite

Izzah, H. N., Amaliyah, N., & Sarumpaet, I. (2026). HUBUNGAN HbA1C DAN DERAJAT ULKUS DIABETIKUM PADA PASIEN DM TIPE 2. PREPOTIF : JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT, 10(1). https://doi.org/10.31004/prepotif.v10i1.56327

Issue

Section

Articles