ANALISIS PELAKSANAAN SURVEILANS DIFTERI OLEH PUSKESMAS DI KOTA PADANG TAHUN 2024
DOI:
https://doi.org/10.31004/prepotif.v10i1.55420Keywords:
atribut surveilans, difteri, puskesmas, SKDR, surveilansAbstract
Difteri merupakan penyakit menular yang masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di negara dengan cakupan imunisasi rendah, termasuk Indonesia. Meskipun Indonesia sempat dinyatakan bebas difteri pada tahun 1990, kasus kembali meningkat sejak 2013 hingga saat ini. Di Provinsi Sumatera Barat, khususnya Kota Padang, peningkatan kasus dan kematian akibat difteri pada tahun 2024 menunjukkan perlunya sistem surveilans yang efektif sebagai upaya deteksi dini dan pengendalian penyakit. Permasalahan yang muncul mengindikasikan bahwa pelaksanaan sistem surveilans difteri di tingkat pelayanan kesehatan primer belum berjalan optimal. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi pelaksanaan komponen proses dalam sistem surveilans difteri oleh Puskesmas di Kota Padang tahun 2024 berdasarkan atribut surveilans serta mengidentifikasi permasalahan yang dihadapi. Penelitian ini menggunakan desain kualitatif dengan lokasi penelitian di lima Puskesmas yang memiliki kasus difteri dan Dinas Kesehatan Kota Padang. Informan dipilih secara purposive, meliputi pemegang program surveilans dan difteri, kepala Puskesmas, serta penderita difteri. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi, dan telaah dokumen, kemudian dianalisis menggunakan triangulasi sumber dan metode. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan surveilans difteri belum sepenuhnya optimal pada seluruh atribut surveilans. Atribut kesederhanaan dan stabilitas telah tercapai, sedangkan fleksibilitas, akseptabilitas, kerepresentatifan, dan nilai prediktif positif masih kurang. Sensitivitas, ketepatan waktu, dan kualitas data juga belum optimal akibat keterlambatan penemuan kasus. Simpulan penelitian ini adalah bahwa penguatan proses surveilans difteri, terutama pada aspek sensitivitas, ketepatan waktu, dan kualitas data, sangat diperlukan untuk meningkatkan efektivitas sistem surveilans dalam mendukung kewaspadaan dini dan pengendalian difteri di Kota Padang.References
Afifah, F. (2017). Analisis Kejadian Difteri di Puskesmas Andalas, Puskesmas Ambacang dan Puskesmas Kuranji Kota Padang Tahun 2017. Universitas Andalas.
Angraeni F, Jannah W, W. R. (2025). Evaluasi Surveilans Respons Cepat Krisis Kesehatan Akibat Wabah: Literatur Review. Khazanah Intelektual, 249–270.
Centers for Disease Control and Prevention. (2006). Preventing tetanus, diphtheria, and pertussis among adults: use of tetanus toxoid, reduced diphtheria toxoid and acellular pertussis vaccine. Morbidity and Mortality Weekly Report,.
Centers for Disease Control and Prevention. (2025). Manual for the Surveillance of Vaccine-Preventable Diseases. Centers for Disease Control and Prevention,; Centers for Disease Control and Prevention.
Chairiyah. (2011). Evaluasi Sistem Surveilans Difteri Berbasis Masyarakat Berdasarkan Komponen Surveilans Di Uptd Puskesmas Kepanjen Kabupaten Malang Tahun 2010. Universitas Airlangga.
Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Barat. (2023). Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Barat 2023. Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Barat.
Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Barat. (2024a). Data Kasus Difteri Sumatera Barat Tahun 2020-2024.
Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Barat. (2024b). Laporan Triwulan III Program Surveilans Campak-Rubela dan Difteri Tahun 2024.
Eva Komalasari, Dwi Handayani, Q. (2024). Gambaran Pelaksanaan Surveilans Difteri Berdasarkan Komponen. 1(4), 57–62.
German RR, Westmoreland D, Armstrong G, Birkhead GS, Horan JM, Guillermo H, et al. (2001). Updated Guidelines for Evaluating Public Health Surveillance Systems. Centers for Disease Control and Prevention,; Centers for Disease Control and Prevention,.
Karangtina, D. S. dan, Direktorat Jenderal Pengendalian dan Pencegahan Penyakit, K. K. R., Center for Disease Control and Prevention, U., Organization, W. H., & Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan, F.-K.-U. (n.d.). Panduan Penggunaan Aplikasi Sistem Kewaspadaan Dini dan Respon (SKDR) untuk Pelaporan Penyakit Berpotensi Kejadian Luar Biasa (KLB) (E. T. H. Henevi Djasri, Muhammad Hardhantyo, Aldilas Achmad Nursetyo (ed.)). Indonesian Healthcare Quality Network (IHQN).
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2017). Ini Makna KLB Difteri. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2022). Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2021. In Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2023a). Petunjuk Teknis Surveilans Difteri (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (ed.)). Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2023b). Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2022. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2024). Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2023. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2025). Profil Kesehatan Indonesia 2024. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
Lidya Nur Maulina, Siti Shofiyah Novita Sari, Sholokah, R. A. (2025). Evaluation of Diphtheria Surveilance System in Probolinggo District: Study of System Approach and Attributes. Jurnal Berkala Epidemiologi, 13, 2024.
Novi Arina Puspitasari. (2019). Evaluasi sistem surveilans difteri di wilayah dinas kesehatan kota depok skripsi. Fakultas Ke.
Parmi; Daleng H. Rosdiana. (2020). Evaluasi Program Surveilans di Puskesmas Ampana Barat Kabupaten Tojo Una-Una. Jurnal Ilmiah Kesmas IJ (Indonesia Jaya), 20(2), 73–79.
Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 45 Tahun 2014 Tentang Penyelenggaraan Surveilans Kesehatan (2014).
Siti Shofiya Novita Sari, B. W. Kartika, C. U. Wahyuni, I. (2020). Evaluation of Diphtheria Surveillance System in Kediri Regency, East Java Province. Journal of Health and Translational Medicine.
Vanni, N. P. S. (2013). Evaluasi Sistem Surveilans Difteri Berdasarkan Atribut Surveilans Di Dinas Kesehatan Kota Surabaya Tahun 2012.
WHO. (2014). Early detection, assessment and response to acute public health events: Implementation of Early Warning and Response with a focus on Event-Based Surveillance. Who, 1–64.
Wikansari, N., Santoso, D. B., Pramono, D., & Dyah W. Widarsih. (2019). Evaluasi Program Early Warning Alert and Respon System (EWARS) dalam Pelaksanaan Surveilans KLB Kota Salatiga Provinsi Jawa Tengah. Nurvita Wikansari, Dian Budi Santoso, Dibyo Pramono, Dyah W. Widarsih, 2(1), 9–17. https://doi.org/10.32585
World Health Organization. (2012). Early Warning Alert and Response in Emergencies: an operational guide. World Health Organization.
World Health Organization. (2018). Diphtheria: Vaccine Preventable Diseases Surveillance Standards. World Health Organization.
World Health Organization. (2024). Diphtheria. World Health Organization.
Yunar Tri Palupi. (2015). Evaluasi Input Sistem Surveilans Difteri Di Wilayah Kerja Dinas Kesehatan Kabupaten Jombang. Universitas Negeri Semarang.
Downloads
Published
How to Cite
Issue
Section
License
Copyright (c) 2026 Istianah Kamil, Ade Suzana Eka Putri, Sri Siswati

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.
Authors who publish with this journal agree to the following terms:
- Authors retain copyright and grant the journal right of first publication with the work simultaneously licensed under a Creative Commons Attribution License that allows others to share the work with an acknowledgement of the work’s authorship and initial publication in this journal.
- Authors are able to enter into separate, additional contractual arrangements for the non-exclusive distribution of the journal’s published version of the work (e.g., post it to an institutional repository or publish it in a book), with an acknowledgement of its initial publication in this journal.
- Authors are permitted and encouraged to post their work online (e.g., in institutional repositories or on their website) prior to and during the submission process, as it can lead to productive exchanges, as well as earlier and greater citation of published work (See The Effect of Open Access).







