KEPATUHAN PEMBERIAN LABEL OBAT HIGH ALERT MEDICATION DI RSGM FKG UNIVERSITAS TRISAKTI

Authors

  • Lia Hapsari Andayani Universitas Trisakti
  • Caesary Cloudya Panjaitan Departemen Ilmu Kesehatan Gigi Masyarakat dan Pencegahan, Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Trisakti
  • Goalbertus Goalbertus Departemen Ilmu Kesehatan Gigi Masyarakat dan Pencegahan, Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Trisakti
  • Marta Juslily Departemen Ilmu Kesehatan Gigi Masyarakat dan Pencegahan, Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Trisakti
  • Abdul Gani Soulisa Departemen Ilmu Kesehatan Gigi Masyarakat dan Pencegahan, Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Trisakti

DOI:

https://doi.org/10.31004/prepotif.v10i1.52924

Keywords:

apoteker, farmasi, obat high alert medication (HAM), rumah sakit gigi dan mulut

Abstract

Obat-obatan High Alert Medication (HAM) seperti Pehacaine, Orabloc, dan Posicaine memiliki risiko tinggi menyebabkan cedera serius apabila terjadi kesalahan dalam penyimpanan atau pemberian. Ketiga obat ini memiliki efek anestesi yang berbeda dalam hal durasi dan potensi vasokonstriksi, sehingga kesalahan dalam pemberian berpotensi menimbulkan risiko tinggi terhadap keselamatan pasien. Pemberian label obat yang jelas dan sesuai standar merupakan salah satu langkah penting dalam menjaga keselamatan pasien. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kepatuhan apoteker dan tenaga farmasi dalam pelabelan obat HAM berupa berupa Pehacaine, Orabloc, dan Posicaine di RSGM FKG Usakti. Penelitian observasional deskriptif ini dilakukan melalui observasi langsung di unit farmasi dan klinik integrasi pada bulan September 2025. Pemberian label obat golongan HAM dilakukan oleh 2 apoteker serta 2 asisten apoteker yang bekerja di unit farmasi RSGM FKG Usakti. Setiap jenis obat yang diberikan label secara lengkap kemudian dicatat dalam lembar pengambilan data. Analisis univariat disajikan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi. Indikator pelabelan yang diamati meliputi adanya label peringatan, kejelasan informasi dosis, bentuk sediaan, dan instruksi penggunaan. Hasil menunjukkan tingkat kepatuhan sebesar 100%, terdiri dari 1.306 label Pehacaine, 45 label Orabloc, dan 265 label Posicaine. Temuan ini menunjukkan bahwa pelabelan obat HAM di RSGM FKG Usakti telah sesuai dengan standar keselamatan pasien, khususnya dalam pengelolaan obat berisiko tinggi.

References

ClinicalTrials.gov (2023). Different dental anesthetic agents during wisdom tooth surgery (Orabloc®, Octocaine®, and Xylestesin-A®). Identifier NCT05804630. Available at: https://clinicaltrials.gov/ct2/show/NCT05804630 [Accessed 29 Oct. 2025].

Daeli, R.R., Zebua, S., Mendrofa, M.S.D. dan Baene, E. (2024). Pengaruh penggunaan APD terhadap keselamatan dan kesehatan kerja tenaga medis di UPTD Puskesmas Afulu. Jurnal Ilmiah Metansi, 7(1), pp.169–174.

Diana, S., Sari, I.P. dan Sari, M. (2023). Pelaksanaan standar pelayanan kefarmasian di apotek Kota Palu. Jurnal Ilmu Farmasi Aplikasi, 11(1), pp.1–9.

Institute for Safe Medication Practices (2018). List of high-alert medications in acute care settings. ISMP.

Martin, E., Palacios, T. et al. (2021). Articaine in dentistry: an overview of the evidence and meta-analysis. British Dental Journal, 230, pp.137–146.

Mattalitti, S.F.O., Lestari, K.N., Wijaya, M.F., Jayakusuma, A., Lauddin, T. dan Azis, D.S. (2019). Uji perbandingan efektivitas lidokain dan lidokain + epinefrin terhadap rasa nyeri. Sinnun Maxillofacial, 2(1), pp.10–14.

Putri, A.D., Nugroho, W. dan Santoso, R. (2022). Risiko medication error pada penggunaan anestesi lokal di bidang kedokteran gigi. Jurnal Kedokteran Gigi, 14(2), pp.85–93.

Rahmawati, D., Suryani, L. dan Kurnia, H. (2021). Penerapan pelabelan High Alert Medication dalam meningkatkan keselamatan pasien di rumah sakit. Jurnal Manajemen Kesehatan Indonesia, 9(3), pp.210–218.

Sari, I.P., Diana, S. dan Sari, M. (2023). Evaluasi kepatuhan apoteker terhadap standar pelayanan kefarmasian di apotek Kota Palu. Pharmademica, 2(1), pp.1–10.

Sari, N.P., Maharani, T. dan Gunawan, F. (2021). Evaluasi kepatuhan tenaga farmasi terhadap pelabelan obat high alert medication di rumah sakit umum. Jurnal Ilmu Kesehatan, 15(2), pp.144–151.

Seminario-Amez, M., González-Navarro, B., Ayuso-Montero, R., Jané-Salas, E. dan López-López, J. (2021). Use of local anesthetics with vasoconstrictor agent during dental treatment in hypertensive and coronary disease patients: a systematic review. Journal of Evidence-Based Dental Practice, 21(2), p.101569.

Shahnaseri, S., Mozaffari, H.R., Sharifi, R. dan Sadeghi, M. (2019). Comparative study of articaine and lidocaine for third molar surgery. Journal of Craniomaxillofacial Research, 6(4), p.1627.

Suaif, S. (2025). Pengelolaan obat high alert, LASA, emergensi, dan obat umum di Farmasi RSUP Fatmawati. Jurnal Farmasi Klinik Best Practice, 4(1), pp.22–34.

Sulastri, R. dan Handayani, P. (2020). Faktor yang mempengaruhi implementasi pelabelan obat high alert medication di fasilitas pelayanan kesehatan. Jurnal Administrasi Kesehatan, 8(1), pp.55–64.

Widyaningrum, R. dan Hidayat, A. (2023). Analisis kepatuhan pelabelan obat berisiko tinggi di instalasi farmasi rumah sakit. Jurnal Farmasi Klinik Indonesia, 12(1), pp.33–41.

Yanti, R. dan Supriatna, A. (2023). Pengaruh kualitas pelayanan terhadap kepuasan pasien pada rumah sakit khusus gigi dan mulut: systematic literature review. Jurnal Sains Kesehatan, 7(1), pp.49–60.

Zain, R., Haider, M. et al. (2021). Efficacy of 4% articaine vs 2% lidocaine in mandibular and maxillary block and infiltration anesthesia in patients with irreversible pulpitis: a systematic review and meta-analysis. Journal of Endodontics, 47(10), pp.1503–1511.

Downloads

Published

2026-04-10

How to Cite

Andayani, L. H., Panjaitan, C. C., Goalbertus, G., Juslily, M., & Soulisa, A. G. (2026). KEPATUHAN PEMBERIAN LABEL OBAT HIGH ALERT MEDICATION DI RSGM FKG UNIVERSITAS TRISAKTI. PREPOTIF : JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT, 10(1), 1034–1039. https://doi.org/10.31004/prepotif.v10i1.52924

Issue

Section

Articles