AMBLIOPIA ANISOMETROPIK PADA PEREMPUAN DEWASA : LAPORAN KASUS

Authors

  • Rani Larasati Program Studi Profesi Dokter, Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara
  • Gadis Sativa Departemen Ilmu Penyakit Mata, Rumah Sakit Umum Daerah K.R.M.T Wongsonegoro
  • Meriana Rasyid Program Studi Profesi Dokter, Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara

DOI:

https://doi.org/10.31004/prepotif.v9i3.52322

Keywords:

ambliopia anisometropik, anisometropia, fungsi binokular, gangguan refraksi, laporan kasus

Abstract

Anisometropia merupakan kondisi di mana terdapat perbedaan refraksi yang signifikan antara kedua mata, sehingga menimbulkan ketidakseimbangan bayangan visual pada retina dan gangguan fusi binokular. Bila tidak dikoreksi sejak usia dini, kondisi ini dapat menyebabkan ambliopia anisometropik, yaitu penurunan ketajaman penglihatan yang tidak dapat diperbaiki sepenuhnya dengan koreksi optik standar akibat gangguan perkembangan jalur visual sentral. Disajikan sebuah laporan kasus pasien perempuan berusia 48 tahun yang datang dengan keluhan mata kiri kabur sejak 15 tahun sebelumnya, disertai nyeri kepala dan rasa kering pada kedua mata. Pemeriksaan autorefraktometer menunjukkan OD memiliki visus 6/7 dengan koreksi terbaik menggunakan refraksi S-3,75 C-1,00x130°, sedangkan OS memiliki visus 6/15 dengan koreksi S-14,00 namun keluhan pusing muncul. Setelah dilakukan penyesuaian, didapatkan visus akhir OS adalah 2/60 dengan koreksi terbaik refraksi S-6,00. Perbedaan ketajaman penglihatan serta rentang refraksi yang mencolok antara kedua mata ini disimpulkan sebagai ambliopia anisometropik. Riwayat koreksi refraksi yang tidak adekuat memperkuat dugaan bahwa gangguan ini telah menetap akibat tidak adanya intervensi pada masa perkembangan visual. Berdasarkan telaah pustaka, perbedaan refraksi >2 dioptri berisiko tinggi menyebabkan supresi kortikal terhadap mata dengan bayangan lebih kabur, yang bila berlangsung lama akan menghambat plastisitas korteks visual. Penatalaksanaan yang disarankan meliputi koreksi refraksi tepat, terapi oklusi, penggunaan tetes mata pelumas, dan pemeriksaan rutin untuk memantau fungsi visual. Kasus ini menegaskan pentingnya deteksi dan koreksi dini anisometropia untuk mencegah ambliopia permanen serta mempertahankan fungsi binokular yang optimal.

References

Al‑Kalbani, H., & Al‑Farsi, N. (2024). Amblyopia update: What we know and what can we do? Oman Journal of Ophthalmology, 17(1), 1–3. https://doi.org/10.4103/ojo.ojo_28_24

Alrasheed, S. H., & Aldakhil, S. (2024). Childhood amblyopia: A systematic review of recent management options. Saudi Journal of Ophthalmology, 38(3), 201–213. https://doi.org/10.4103/sjopt.sjopt_212_23

Asare, A. K., Akuffo, K. O., Kumah, D. Ben, Agyei-Manu, E., Darko, C. K., & Addo, E. K. (2020). Prevalence and pattern of amblyopia in a rural hospital in Ghana. Strabismus, 00(00), 119–127. https://doi.org/10.1080/09273972.2020.1779319

BPOM. (2012). Pedoman Informasi Dan Pembacaan Standar Bahan Tambahan Pangan Untuk Industri Pangan Siap Saji Dan Industri Rumah Tangga Pangan. Direktorat Standarisasi Produk Pangan, 62–83.

BPOM. (2019). Peraturan BPOM NO 11 Tahun 2019 tentang Bahan Tambahan Pangan. Badan Pengawasan Obat dan Makanan Republik Indonesia, 1–1156.

BPOM. (2023). Peraturan Badan Pengawas Obat dan Makanan RI Nomor 22 Tahun 2023 Tentang Bahan Baku yang Dilarang dalam Pangan Olahan dan Bahan yang Dilarang Digunakan Sebagai Bahan Tambahan Pangan. Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia

BPOM. (2025). Bahan Tambahan Pangan yang Dilarang Dalam Produk Pangan. Badan Pengawasan Obat dan Makanan Republik Indonesia

Devaraj, P., Babu, V., & Cengiz, E. I. (2021). Qualitative detection of formaldehyde and ammonia in fish and other seafoods obtained from Chennai’s (India) fish markets. Environmental Monitoring and Assessment, 193(2). https://doi.org/10.1007/s10661-021-08871-z

Eslami, F., Mohammadi, T., & Khazaei, S. (2023). Association Between Anisometropia and Amblyopia: A Systematic Review and Meta-analysis Study. Biomedical Research and Therapy, 10(11), 6009–6018. https://doi.org/10.15419/bmrat.v10i11.842

Haine, L., Taylor, I., & Vaughan, M. (2025). The Psychological Impact of Amblyopia Treatment: A Systematic Literature Review. British and Irish Orthoptic Journal, 21(1), 1–14. https://doi.org/10.22599/bioj.426

Hu, B., Liu, Z., Zhao, J., Zeng, L., Hao, G., Shui, D., & Mao, K. (2022). The Global Prevalence of Amblyopia in Children: A Systematic Review and Meta-Analysis. Frontiers in Pediatrics, 10(May), 1–10. https://doi.org/10.3389/fped.2022.819998

McConaghy, J. R., & McGuirk, R. (2019). Amblyopia: Detection and treatment. American Family Physician, 100(12), 745–750.

Proudlock, F. A., et al. (2024). Extended optical treatment versus early patching with an atropine penalization regimen for amblyopia (ETROP): A randomized controlled trial. The Lancet, 404(10352), 2893–2902. https://doi.org/10.1016/S0140-6736(23)02893-3

Umboh, A. S. M., & Tansil, A. Y. M. (2025). Unequal Eye: A Case of Unilateral High Myopia and Anisometropia Amblyopia. E-CliniC, 13(1), 132–137. https://doi.org/10.35790/ecl.v13i1.58459

Yuliana, J. (2022). Aspek Klinis Ambliopia. Cermin Dunia Kedokteran, 49(1), 19–22. https://doi.org/10.55175/cdk.v49i1.182

Zhang, L., Zhao, Y., Shi, X., Wu, F., & Shen, Y. (2025). Understanding amblyopia from the perspective of neurovascular units: changes in the retina and brain. Frontiers in Cell and Developmental Biology, 13(June), 1–17. https://doi.org/10.3389/fcell.2025.1590009

Downloads

Published

2025-12-23

How to Cite

Larasati, R., Sativa, G., & Rasyid, M. (2025). AMBLIOPIA ANISOMETROPIK PADA PEREMPUAN DEWASA : LAPORAN KASUS. PREPOTIF : JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT, 9(3), 8419–8424. https://doi.org/10.31004/prepotif.v9i3.52322