KAJIAN FAKTOR PENDORONG REMAJA MENGAKSES KONTEN PORNOGRAFI DI SMPN 8 KOTA KUPANG
DOI:
https://doi.org/10.31004/prepotif.v9i3.50555Keywords:
faktor pendorong, pornografi, pendidikan seksual, remajaAbstract
Remaja saat ini mudah mengakses konten pornografi lewat internet, yang dapat berdampak negatif pada perkembangan psikososial mereka. Penelitian ini bertujuan mengkaji faktor-faktor internal dan eksternal yang mendorong remaja mengakses konten pornografi di SMP Negeri 8 Kota Kupang. Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif analitik dengan wawancara mendalam terhadap sembilan informan remaja berusia 13-15 tahun yang pernah mengakses pornografi yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling berdasarkan kriteria yang sudah ditentukan. Teknik pengumpulan data menggunakan wawancara mendalam, dengan analisis data tematik melalui tahap memahami data, pengkodean, pengembangan tema, dan penarikan simpulan. Hasil penelitian menunjukkan remaja pertama kali terpapar pornografi pada usia 9-12 tahun, dengan alasan utama rasa penasaran dan keingintahuan, serta didukung oleh kondisi bosan atau kesepian dan pengaruh teman sebaya. Media akses utama adalah perangkat digital pribadi dan media sosiapl, dengan tempat untuk menonton pornografi yaitu di kamar pribadi, toilet, dan sudut sekolah. Faktor internal mencakup keinginan menonton ulang, kesulitan berhenti akibat kecanduan, perasaan puas saat menonton, dan situasi kondisi pemicu akses pornografi. Faktor eksternal berupa pengaruh teman sebaya, peran keluarga dalam pengawasan, media yang digunakan untuk mengakses konten pornografi, serta edukasi dari sekolah yang belum optimal. Kesimpulannya, faktor internal dan eksternal saling berinteraksi meningkatkan risiko akses pornografi pada remaja. Disarankan adanya peningkatan edukasi seksual, pengawasan keluarga, dan kebijakan sekolah yang lebih ketat untuk menekan akses pornografi di kalangan remaja. Penelitian ini menjadi dasar penting dalam pengembangan intervensi pencegahan kecanduan pornografi pada remaja di lingkungan sekolah.References
Ali Muhammad (2021) ‘Faktor Penyebab Kebiasaan Menonton Film Porno Pada Remaja’, OSF Preprints [Preprint]. Available at: https://osf.io/dq9wr/download.
BKKBN (2023) Kategori Usia Pada Remaja, BKKBN.
Ekayanti, F. et al. (2019) ‘Internet use behavior among senior high schools’ students: A 2017 survey study in Indonesia’, Ecology, Environment and Conservation, 25(3), pp. 1185–1195.
Elly, M. (2019) ‘Peran Keluarga Dalam Upaya Pencegahan Adiksi Pornografi Pada Anak Usia Sekolah Dasar’, Sosietas, 8(2), pp. 527–531. Available at: https://doi.org/10.17509/sosietas.v8i2.14595.
Gayatri Sabrina (2020) ‘Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Frekuensi Akses Pornografi dan Dampaknya terhadap Perilaku Seksual pada Remaja di Kota Bogor (Studi di SMA 'X" Kota Bogor)’, Jurnal Kesehatan Masyarakat (Undip), 8(3), pp. 410–419.
Hisyam (2025) ‘Pornografi Sebagai Penyimpangan pada Mahasiswa di Era Digital’, Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Sosial, 02(11), pp. 600–608.
KPI NTT (2012) ‘67 Persen Anak NTT Pernah Mengunduh Situs Porno’. Available at: https://www.kpi.go.id/id/umum/30571-67-persen-anak-ntt-pernah-mengunduh-situs-porno?detail3=23716.
Ningtyas (2023) ‘Faktor Penyebab Remaja Mengakses Konten Pornografi dan Dampaknya terhadap Perilaku Berpacaran (Studi Kasus pada Remaja SMA di Kota Surabaya)’, Media Gizi Kesmas, 12(2), pp. 685–691. Available at: https://doi.org/10.20473/mgk.v12i2.2023.685-691.
Novita (2018) ‘Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kebiasaan Menonton Film Porno pada Remaja’, Anthropos: Jurnal Antropologi Sosial dan Budaya (Journal of Social and Cultural Anthropology), 4(1), pp. 41–43. Available at: https://doi.org/10.24114/antro.v4i1.9885.
Putra, A.M. and Pd, M, V. (2018) ‘Remaja dan Pendidikan Seks Abstrak Pendidikan seks dipandang oleh remaja sebagaisesuatu hal yang menarik , bernilai positif , serta bermanfaat bagi mereka dalammembantu persoalan hidup remaja . Melalui pendidikan seks remaja mampumengarahkan perilaku seks’, 3.
Rahayu (2024) ‘Psikoedukasi Pencegahan Adiksi Pornografi Bagi Anak dan Remaja’, Jurnal Pengabdian Masyarakat (ABDIRA), 4(3), pp. 86–92. Available at: https://doi.org/10.31004/abdira.v4i3.495.
Rodríguez (2019) Kaitan Pornografi dengan Remaja.
Taylor (2019) ‘Dampak Pornografi Internet pada Remaja : Sebuah Tinjauan dari penelitian’, pp. 99–122.
Trisna, E. (2017) Hubungan Paparan Pornografi dengan Perilaku Seksual Remaja Di Sma Negeri Belalau Kabupaten Lampung Barat, Departemen Keperawatan, Poltekkes Kemenkes Tanjung Karang, Bandar Lampung, Indonesia. Available at: https://doi.org/https://doi.org/10.26630/jkep.v11i1.534.
WHO (2023) Aduan Konten Negatif, Mayoritas Pornografi, Kemkominfo. Available at: https://www.kominfo.go.id/berita/sorotan-media/detail/ada-431-065-aduan-konten-negatif-mayoritas-pornografi.
Yudianto Devie (2024) ‘The Depressing Nakedness: The Role of Cyberpornography in Increasing Loneliness’, Jurnal Psikologi Tabularasa, 19(1), pp. 103–112. Available at: https://jurnal.unmer.ac.id/index.php/jpt/index.
Zevriyanti (2019) ‘Pengalaman Remaja Mengakses Konten Pornografi di SMP Perintis Depok Jawa Barat’, Jurnal Ilmiah Kesehatan Masyarakat, 11(3), pp. 226–231.
Downloads
Published
How to Cite
Issue
Section
License
Copyright (c) 2025 Yehezkiel Riwu, Helga J.N. Ndun, Tanti Rahayu, Afrona E. L. Takaeb

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.
Authors who publish with this journal agree to the following terms:
- Authors retain copyright and grant the journal right of first publication with the work simultaneously licensed under a Creative Commons Attribution License that allows others to share the work with an acknowledgement of the work’s authorship and initial publication in this journal.
- Authors are able to enter into separate, additional contractual arrangements for the non-exclusive distribution of the journal’s published version of the work (e.g., post it to an institutional repository or publish it in a book), with an acknowledgement of its initial publication in this journal.
- Authors are permitted and encouraged to post their work online (e.g., in institutional repositories or on their website) prior to and during the submission process, as it can lead to productive exchanges, as well as earlier and greater citation of published work (See The Effect of Open Access).







