FAKTOR – FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERIPHERAL ARTERIAL DISEASE (PAD) PADA PASIEN DIABETES MELITUS

Authors

  • Mohammad Nur Qalbi Mahasiswa Program Profesi Dokter, Fakultas Kedokteran, Universitas Muslim Indonesia, Makassar
  • Andi Kartini Ekayanti Mahasiswa Program Profesi Dokter, Fakultas Kedokteran, Universitas Muslim Indonesia, Makassar
  • Erick Gamaliel . Amba Mahasiswa Program Profesi Dokter, Fakultas Kedokteran, Universitas Muslim Indonesia, Makassar

DOI:

https://doi.org/10.31004/prepotif.v8i3.39330

Keywords:

DM, faktor, PAD, pasien

Abstract

Faktor resiko PAD pada penderita DM tipe II meningkat seiring dengan bertambahnya usia, jenis kelamin, lama menderita DM, riwayat hipertensi, aktifitas fisik yang rendah dan riwayat merokok serta hiperkolesterolnemia. Jika PAD tidak dideteksi sejak dini maka akan beresiko terjadinya ulkus diabetikum. Tinjauan literature review dilakukan dengan memanfaatkan berbagai basis data elektronik seperti PubMed, Scopus, dan Web of Science. Pencarian difokuskan pada artikel yang diterbitkan dalam rentang waktu 2014 hingga 2024 dengan menggunakan kata kunci PAD, DM, faktor, dan pasien. Kriteria inklusi yang digunakan mencakup studi retrospektif, cross-sectional, dan observasional yang ditulis dalam bahasa Inggris. Dari 100 artikel yang awalnya ditemukan, sebanyak 10 artikel memenuhi kriteria inklusi dan dianalisis secara menyeluruh. Hasil penelitian di dapatkan bahwa Faktor yang paling mempengaruhi Peripheral Arterial Disease  pada penderita Diabetes Melitus adalah faktor usia > 50 tahun, hipertensi, dan hiperkolesterol. Pasien yang paling banyak terdiagnosa PAD ialah penderita Diabetes Melitus yang tidak terkontrol. Kesimpulan dari penelitian ini yakni faktor pengaruh yang paling sering didapatkan dari 10 penelitian yaitu usia, hipertensi, dan hiperkolesterol. Diabetes meningkatkan risiko kejadian PAP simptomatik dan asimptomatik sebesar 1,5-4 kali lipat, dan mengarah pada peningkatan kejadian penyakit kardiovaskuler dan kematian lebih dini. Risiko terjadinya PAP proporsional dengan keparahan dan durasi diabetes.

References

Aday, A. W., Lawler, P. R., Cook, N. R., Ridker, P. M., Mora, S., & Pradhan, A. D. (2018). Lipoprotein particle profiles, standard lipids, and peripheral artery disease incidence: Prospective data from the Women’s Health Study. Circulation, 138(21), 2330-2341.

Arsianti, R. W., Sardina, S., Fairul, F., Irfan, I., & Mulyadi, M. (2020). Rancang bangun alat ukur ankle brachial indeks untuk deteksi peripheral artery disease. Jurnal Rekayasa Elektrika, 16(3).

Alisa, F., & Andika, M. (2022). Pengaruh Active Lower Range Of Motion Terhadap Nilai Ankle Brachial Index (ABI) Pada Pasien Diabetes Mellitus Tipe 2 Pada Masa Pandemic Covid-19 Di Wilayah Kerja Puskesmas Andalas Padang. Jurnal Keperawatan Muhammadiyah, 7(2).

Atlas, I. D. (2019). IDF diabetes atlas. International diabetes federation.

Becker FG, Cleary M, Team RM, Holtermann H, The D, Agenda N, et al. (2022). Braundwald Heart Disease. Syria Stud. 12(1):37–72.

Bennett, P. C., Silverman, S., & Gill, P. (2009). Hypertension and peripheral arterial disease. Journal of Human Hypertension, 23(3), 213-215.

Dewi, A. I. S. K., Dwipayana, P., & Budhiarta, A. G. (2016). Prevalens peripheral arterial disease dan faktor-faktor yang memengaruhinya pada penderita diabetes melitus tipe 2 di RSUP Sanglah. Medicina, 47(2).

Ilminova, F., Nugroho, K., & Ismail, A. (2015). Hubungan antara status diabetes melitus dengan status penyakit arteri perifer (PAP) pada pasien hipertensi.

Tóth-Vajna, Z., Tóth-Vajna, G., Gombos, Z., Szilágyi, B., Járai, Z., Berczeli, M., & Sótonyi, P. (2019). Screening of peripheral arterial disease in primary health care. Vascular health and risk management, 355-363.

Waghmare, L. S., & Srivastava, T. K. (2016). Conceptualizing physiology of arterial blood pressure regulation through the logic model. Advances in Physiology Education, 40(4), 477-479.

Widiastuti, L., Wati, L., Siagian, Y., & Sitindaon, S. H. (2022). Deteksi dini peripheral arterial disease pada penderita diabetes mellitus tipe 2. Media Karya Kesehat, 5(1), 15-31.

Rosyada, A., & Trihandini, I. (2013). Determinan komplikasi kronik diabetes melitus pada lanjut usia. Kesmas, 7(9), 395-402.

Schramm, K., & Rochon, P. J. (2018, March). Gender differences in peripheral vascular disease. In Seminars in interventional radiology (Vol. 35, No. 01, pp. 009-016). Thieme Medical Publishers.

Thiruvoipati, T., Kielhorn, C. E., & Armstrong, E. J. (2015). Peripheral artery disease in patients with diabetes: Epidemiology, mechanisms, and outcomes. World journal of diabetes, 6(7), 961.

Thendria, T., Toruan, I. L., & Natalia, D. (2014). Hubungan Hipertensi dan Penyakit Arteri Perifer Berdasarkan Nilai Ankle-Brachial Index. EJournal Kedokteran Indonesia, 2(1), 59822.

Rosyada, A., & Trihandini, I. (2013). Determinan komplikasi kronik diabetes melitus pada lanjut usia. Kesmas, 7(9), 395-402.

Schramm, K., & Rochon, P. J. (2018, March). Gender differences in peripheral vascular disease. In Seminars in interventional radiology (Vol. 35, No. 01, pp. 009-016). Thieme Medical Publishers.

Downloads

Published

2024-12-29

How to Cite

Nur Qalbi, M., Ekayanti, A. K., & Amba, E. G. . (2024). FAKTOR – FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERIPHERAL ARTERIAL DISEASE (PAD) PADA PASIEN DIABETES MELITUS. PREPOTIF : JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT, 8(3), 7544–7551. https://doi.org/10.31004/prepotif.v8i3.39330