PENATALAKSANAAN FISIOTERAPI PADA KASUS DISPNEA ET CAUSA TUBERKULOSIS PARU DENGAN MODALITAS NEBULIZER DAN BREATHING EXERCISE DI RSUD PARU DUNGUS

Authors

  • Ilham Mansiz Program Studi D3 Fisioterapi, Fakultas Ilmu Kesehatan, Universitas Muhammadiyah Lamongan
  • Nurma Auliya Hamidah Program Studi D3 Fisioterapi, Fakultas Ilmu Kesehatan, Universitas Muhammadiyah Lamongan
  • Yeni Tri Nurhayati Program Studi D3 Fisioterapi, Fakultas Ilmu Kesehatan, Universitas Muhammadiyah Lamongan

DOI:

https://doi.org/10.31004/prepotif.v9i3.34315

Keywords:

Breathing Control, Coughing, Dispnea, Nebulizer, Segmental Breathing, Tuberkulosis Paru

Abstract

Tuberkulosis paru adalah penyakit infeksi yang menyerang paru-paru dan merupakan masalah kesehatan global. Penyakit ini dapat menyebabkan kerusakan jaringan paru-paru, yang mengakibatkan gangguan fungsi pernapasan dan munculnya gejala utama seperti dispnea. Dispnea pada pasien tuberkulosis paru sering kali disebabkan oleh kerusakan pada struktur paru-paru, akumulasi sekresi, dan gangguan ventilasi, yang menghambat pertukaran oksigen secara optimal. Kondisi ini tidak hanya mengurangi aktivitas fungsional pasien tetapi juga memperburuk kondisi klinis jika tidak segera ditangani. Fisioterapi bertujuan untuk membantu memulihkan aktivitas fungsional dan mengurangi masalah yang disebabkan oleh kasus tersebut dengan modalitas nebulizer dan terapi latihan. Pada kasus dispnea et causa tuberkulosis, menggunakan modalitas fisioterapi seperti terapi nebulizer dan latihan pernapasan berupa breathing control, segmental breathing, dan coughing. Setelah dilakukan empat kali terapi, hasil menunjukkan penurunan laju pernapasan dari T0: 22 kali/menit menjadi T4: 19 kali/menit, penurunan derajat sesak berdasarkan skala Borg dari T0: 4 (agak sesak) menjadi T4: 2 (sedikit sesak), peningkatan ekspansi toraks sebesar 1 cm pada intercostal space 2 (axila), intercostal space 4 (nipple), dan intercostal space 6 (processus xiphoideus), serta batuk yang lebih efektif dengan peningkatan pengeluaran sputum dari T0: 0 ml menjadi T4: 10 ml. Namun, tidak terdapat peningkatan dalam aktivitas fungsional berdasarkan pengukuran skala MMRC. Penggunaan nebulizer dan terapi latihan seperti breathing control, segmental breathing, dan coughing dapat mengurangi derajat sesak memperbaiki pola pernapasan, meningkatkan ekspansi toraks, membantu pengeluaran sputum, dan memperbaiki efektivitas batuk.

References

Alfarizi, S. (2020) Penerapan Batuk Efektif Pada Pasien Tuberculosis, Repository Poltekkes Kemenkes Palembang.

Alhogbi, B. G. et al. (2018) ‘Penatalaksanaan Fisioterapi Pada Kasus Asma Dengan Modalitas Nebulizer Dan Chest Therapy Di Rumah Sakit Paru Dungus Madiun’, Gender and Development, 120(1), pp. 0–22.

Fadillah, L. and Supriyadi, A. (2023) ‘Penatalaksanaan Fisioterapi Pada Kasus Tuberkulosis Paru (A Case Report)’, Penatalaksanaan Batuk Efektif, 2(8), pp. 3109–3114.

Gabriel, Y. S. (2020) ‘Efektifitas Pemberian Nebulizer Dalam Mengatasi Masalah bersihan jalan napas pada pasien tuberkulosis’, pp. 1–55.

Kemenkes (2021) Laporan Program Penanggulangan Tuberkulosis Tahun 2021, kemenkes.go.id.

Khafifa, D. et al. (2024) ‘Intervensi Breathing Exercise dalam Pemenuhan Kebutuhan Dasar Oksigenasi pada Klien Efusi Pleura’, Alauddin Scientific Journal and Nursing, 5(1), pp. 1–7.

Lestari, E. D., Umara, A. F. and Immawati, S. A. (2020) ‘Effect of Effective Cough on Sputum Expenditure in Pulmonary Tuberculosis Patients’, Jurnal Ilmiah Keperawatan Indonesia [JIKI], 4(1), p. 1. doi: 10.31000/jiki.v4i1.2734.

Linda, W. and Yusnaini, S. (2015) ‘Pengaruh Batuk Efektif Terhadap Pengeluaran Sputum pada Pasien Tuberkulosis di Puskesmas Kampung Bugis Tanjung Pinang’, Jurnal Keperawatan, 5(1), pp. 27–34. Available at: https://jurnal.stikesht-tpi.ac.id/index.php/jurkep.

Lini Dewi Mahesti, Tiara Fatmarizka and Prayitno (2023) ‘Penatalaksanaan Fisioterapi Pada Kasus Sindrom Obstruksi Pasca Tuberkulosis Paru : Studi Kasus’, Jurnal Cakrawala Ilmiah, 2(11), pp. 4273–4280. doi: 10.53625/jcijurnalcakrawalailmiah.v2i11.6123.

Natarajan, A. et al. (2020) ‘A systemic review on tuberculosis’, Indian Journal of Tuberculosis, 67(3), pp. 295–311. doi: 10.1016/J.IJTB.2020.02.005.

Nugraha, D. A. et al. (2022) ‘Efektifitas Nebulizer Dan Segmental Breathing Dapat Mengurangi Sesak Nafas Serta Meningkatkan Ekspansi Sangkar Toraks Pada Suspect Massa Paru Di RSUP Dungus MAdiun’, 3(1), pp. 3–6.

Pratama, A. D. (2021) ‘Efektivitas Active Cycle of Breathing Technique (ACBT) Terhadap Peningkatan Kapasitas Fungsional Pada Pasien Bronkiektasis Post Tuberkulosis Paru’, Jurnal Vokasi Indonesia, 9(1). doi: 10.7454/jvi.v9i1.247.

Qomariah, E. and Isnayati (2018) ‘Literature Review Terapi Inhalasi Nebulizer Terhadap Penurunan Sesak Napas Pada Pasien Asma’, (1), pp. 1–8.

Satriya, G. et al. (2021) ‘Original Article Effect Of Dyspnea On The 1-Year Survival Of Patients With Progressive Disease At Cipto Mangunkusumo Hospital’, 8(1), pp. 1–9.

Wanjari, M. K., Lalwani, L. and Tiwari, P. R. (2024) ‘Novelty of Physiotherapy Protocols in a Classic Case of Extrapulmonary Tuberculosis in a 35-Year-Old Male Patient: A Case Report’, Cureus, 16(4).

Widiyana (2023) ‘Laporan Audit Kepatuhan PPK Tuberkulosis’. Available at: https://www.jatim/berita/d-6651881/81-753-warga-jatim-alami-tbc-penyumbang-tertinggi-kota-surabaya.

Wiwik, H. (2019) ‘Breathing Exercise Pada Pasien Tuberkulosis’. Surakarta.

World Health Organization (2020) Palliative Care, World Health Organization. Available at: https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/palliative-care.

World Health Organization (2021) Global Tuberculosis Report. Edited by World Health Organization. Iverson, Brent L Dervan, Peter B. Available at: https://www.who.int/publications/i/item/9789240037021.

Downloads

Published

2025-12-25

How to Cite

Mansiz, I., Hamidah, N. A., & Nurhayati, Y. T. (2025). PENATALAKSANAAN FISIOTERAPI PADA KASUS DISPNEA ET CAUSA TUBERKULOSIS PARU DENGAN MODALITAS NEBULIZER DAN BREATHING EXERCISE DI RSUD PARU DUNGUS. PREPOTIF : JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT, 9(3), 8263–8270. https://doi.org/10.31004/prepotif.v9i3.34315