Hubungan Gaya Hidup dengan Risiko Sindroma Metabolik

Authors

  • Annissa Niken Larashati Universitas Muhammadiyah Surakarta
  • Okti Sri Purwanti Universitas Muhammadiyah Surakarta

DOI:

https://doi.org/10.31004/jn.v10i1.51852

Abstract

Sindrom metabolik adalah kelompok gangguan dalam proses metabolisme tubuh, yang mencakup obesitas di area pusat tubuh, kadar gula darah yang tinggi, tekanan darah tinggi, serta ketidakseimbangan kadar lemak dalam darah. Kelompok gangguan ini bisa meningkatkan risiko terkena penyakit jantung dan pembuluh darah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara gaya hidup dengan risiko mengalami sindrom metabolik pada peserta Program Pengelolaan Penyakit Kronis (PROLANIS) di Puskesmas Kartasura. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan Cross-sectional. Populasi penelitian terdiri dari 100 orang lansia yang tergabung dalam PROLANIS, dan 80 dari mereka dipilih menggunakan rumus Slovin dengan tingkat kesalahan 5%. Data dikumpulkan melalui kuesioner gaya hidup yang ter uji valid dan reliabel dengan nilai Cronbach’s alpha = 0,894, serta pemeriksaan fisik berdasarkan kriteria NCEP-ATP III, yaitu lingkar perut, tekanan darah, kadar HDL, trigliserida, dan kadar gula darah puasa. Hasil analisis dengan uji Chi- square menunjukkan 73,8% responden memiliki gaya hidup sehat, namun 56,3% di antaranya masih berisiko mengalami sindrom metabolik (p = 0,150). Dari hasil tersebut, dapat disimpulkan bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara gaya hidup dengan risiko sindrom metabolik, karena berbagai faktor seperti usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan, dan kondisi biologis juga turut memengaruhi.

Downloads

Published

2026-01-08

How to Cite

Larashati, A. N., & Purwanti, O. S. (2026). Hubungan Gaya Hidup dengan Risiko Sindroma Metabolik. Jurnal Ners, 10(1), 1526–1532. https://doi.org/10.31004/jn.v10i1.51852

Issue

Section

Articles