MYASTHENIA GRAVIS

Authors

  • Sherina Sherina Pendidikan Profesi Dokter, Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara, Jakarta Barat
  • Irawaty Hawari Rumah Sakit Umum Daerah RAA Soewondo Pati
  • Sunaryo Sunaryo Pendidikan Profesi Dokter, Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara, Jakarta Barat

DOI:

https://doi.org/10.31004/jkt.v7i1.56706

Keywords:

Myasthenia gravis, Krisis myasthenia, neuromuscular junction, autoantibodi

Abstract

Myasthenia gravis (MG) merupakan penyakit autoimun kronis pada neuromuscular junction yang ditandai oleh kelemahan otot yang bersifat fluktuatif dan memburuk dengan aktivitas serta membaik setelah istirahat. Salah satu komplikasi MG yang mengancam jiwa adalah krisis miastenik, yaitu perburukan akut yang melibatkan otot pernapasan dan/atau otot bulbar. Krisis miastenik memerlukan diagnosis dini dan tata laksana yang cepat serta komprehensif untuk mencegah kegagalan napas dan menurunkan angka morbiditas dan mortalitas. Penelitian ini merupakan studi kasus deskriptif pada seorang pasien perempuan berusia  39 tahun yang datang ke IGD dengan keluhan sesak, kedua mata terasa berat dan sulit menelan. Pasien sebelumnya memiliki riwayat myasthenia gravis dan sedang menjalani pengobatan. Data dikumpulkan melalui anamnesis, pemeriksaan fisik dan neurologis, pemeriksaan penunjang laboratorium, kemudian dianalisis secara deskriptif. Pemeriksaan menunjukkan pasien datang dengan keluhan sesak napas, sulit menelan, suara sengau dan melemah, ptosis bilateral, serta diplopia yang semakin memberat. Pemeriksaan neurologis menunjukkan ptosis bilateral, diplopia, paresis nervus kranialis III, IX, dan X, disartria, disfagia, serta tes Wartenberg dan single breath counting test yang positif. Pemeriksaan laboratorium menunjukkan hipokalemia. Berdasarkan gambaran klinis dan pemeriksaan penunjang, pasien didiagnosis sebagai krisis miastenik grade IVB. Pasien mendapatkan terapi antikolinesterase, kortikosteroid, imunosupresan, namun belum mendapat terapi krisis miastenik berupa intravenous immunoglobulin dan plasmapheresis. Laporan kasus ini menunjukan bahwa myasthenia gravis merupakan penyakit autoimun kronis yang apabila memburuk dapat menjadi krisis myasthenia. Krisis myasthenia merupakan komplikasi berat dari myasthenia gravis yang dapat mengancam jiwa. Diagnosis yang cepat berdasarkan gambaran klinis serta penatalaksanaan yang tepat dan komprehensif sangat penting untuk mencegah kegagalan napas dan memperbaiki luaran klinis pasien.  

References

Gerischer, L., Doksani, P., Hoffmann, S., & Meisel, A. (2025). New and emerging biological therapies for myasthenia gravis: A focussed review for clinical decision-making. BioDrugs, 39, 185–213. https://doi.org/10.1007/s40259-024-00701-1

Aninditha, T., & Wiratman, W. (2022). Buku ajar neurologi (Buku 2). Departemen Neurologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

Dresser, L., Wlodarski, R., Rezania, K., & Soliven, B. (2021). Myasthenia Gravis: Epidemiology, Pathophysiology and Clinical Manifestations. Journal of Clinical Medicine, 10(11), 2235. https://doi.org/10.3390/jcm10112235

Estephan, E. P., Baima, J. P. S., & Zambon, A. A. (2022). Myasthenia gravis in clinical practice. Arquivos de neuro-psiquiatria, 80(5 Suppl 1), 257–265. https://doi.org/10.1590/0004-282X-ANP-2022-S105

Beloor Suresh, A., & Asuncion, R. M. D. (2023). Myasthenia gravis. In StatPearls. StatPearls Publishing. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK559331/

Downloads

Published

2026-03-30

Issue

Section

Articles