PERAN TERAPI BRONKODILATOR DALAM MENINGKATKAN FUNGSI PARU PADA PENDERITA PPOK
DOI:
https://doi.org/10.31004/jkt.v7i1.52875Keywords:
bronkodilator, fungsi paru, PPOK, terapi farmakologisAbstract
Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK) merupakan kondisi inflamasi kronis pada saluran pernapasan yang mengakibatkan hambatan aliran udara secara progresif dan persisten. Sebagai salah satu penyebab utama morbiditas serta mortalitas global, pengelolaan gejala menjadi krusial karena penyakit ini tidak dapat disembuhkan sepenuhnya. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan dan menganalisis peran strategis terapi bronkodilator dalam meningkatkan fungsi paru serta kualitas hidup penderita PPOK. Metode penelitian yang digunakan adalah literature review dengan pendekatan naratif melalui pencarian sistematis terhadap lima artikel penelitian relevan dari basis data Google Scholar, PubMed, dan ScienceDirect dalam rentang waktu 2020–2025. Hasil tinjauan menunjukkan bahwa terapi bronkodilator tetap menjadi pilihan utama dalam manajemen farmakologis PPOK. Mekanisme kerjanya melalui relaksasi otot polos saluran napas terbukti efektif membuka bronkus, mengurangi resistensi aliran udara, dan menurunkan frekuensi eksaserbasi akut secara signifikan. Selain perbaikan parameter fungsi paru, penggunaan bronkodilator berdampak positif pada peningkatan kualitas hidup pasien melalui pengurangan gejala sesak napas (dyspnea) serta peningkatan toleransi terhadap aktivitas fisik harian. Simpulan dari penelitian ini menegaskan bahwa bronkodilator merupakan pilar utama penanganan PPOK yang tidak hanya berfungsi memperbaiki kondisi fisiologis paru, tetapi juga berperan penting dalam menstabilkan kondisi pernapasan pasien dan memperlambat laju progresivitas penyakit dalam jangka panjang. Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK) merupakan kondisi inflamasi kronis pada saluran pernapasan yang mengakibatkan hambatan aliran udara secara progresif dan persisten. Sebagai salah satu penyebab utama morbiditas serta mortalitas global, pengelolaan gejala menjadi krusial karena penyakit ini tidak dapat disembuhkan sepenuhnya. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan dan menganalisis peran strategis terapi bronkodilator dalam meningkatkan fungsi paru serta kualitas hidup penderita PPOK. Metode penelitian yang digunakan adalah literature review dengan pendekatan naratif melalui pencarian sistematis terhadap lima artikel penelitian relevan dari basis data Google Scholar, PubMed, dan ScienceDirect dalam rentang waktu 2020–2025. Hasil tinjauan menunjukkan bahwa terapi bronkodilator tetap menjadi pilihan utama dalam manajemen farmakologis PPOK. Mekanisme kerjanya melalui relaksasi otot polos saluran napas terbukti efektif membuka bronkus, mengurangi resistensi aliran udara, dan menurunkan frekuensi eksaserbasi akut secara signifikan. Selain perbaikan parameter fungsi paru, penggunaan bronkodilator berdampak positif pada peningkatan kualitas hidup pasien melalui pengurangan gejala sesak napas (dyspnea) serta peningkatan toleransi terhadap aktivitas fisik harian. Simpulan dari penelitian ini menegaskan bahwa bronkodilator merupakan pilar utama penanganan PPOK yang tidak hanya berfungsi memperbaiki kondisi fisiologis paru, tetapi juga berperan penting dalam menstabilkan kondisi pernapasan pasien dan memperlambat laju progresivitas penyakit dalam jangka panjang.References
Asyrofy, A., Arisdiani, T., & Aspihan, M. (2021). Karakteristik dan kualitas hidup pasien Penyakit Paru Obstruksi Konik (PPOK). NURSCOPE: Jurnal Penelitian Dan Pemikiran Ilmiah Keperawatan, 7(1), 13. https://doi.org/10.30659/nurscope.7.1.13-21
Fadhilah, M. A., Dokter, P. P., & Malikussaleh, U. (2024). Chronic Obstructive Pulmonary Disease. 2(2).
Fajrin, F. A., Dewi, I. P., & Putri, A. M. (2022). Penggunaan Bronkodilator Tunggal atau Bersama Kortikosteroid dapat Memperbaiki Parameter Sesak, w/h, dan r/h pada Pasien Rawat Inap dengan PPOK Eksaserbasi Akut di RS. X di Jember Tahun 2018. Indonesian Journal of Clinical Pharmacy, 11(3), 198-208.
GOLD. (2020). GOLD Report 2020. Global Initiative for Chronic Obstructive Lung Disease, 141. https://goldcopd.org/wp-content/uploads/2019/12/GOLD-2020-FINAL-ver1.2-03Dec19_WMV.pdf
Purwoko, P., Tata, M. K., & Lha, P. (2025). Diagnosis dan Tata Laksana Tuberkuloma Serebral Diagnosis dan Farmakoterapi Penyakit Paru Obstruktif Kronis Pendekatan Diagnosis Ensefalomielitis Tata Laksana Gangguan Kognitif di Layanan Primer Pemilihan Obat Anti-Epilepsi ( OAE ) untuk Penyandang Infeksi Dengue Sekunder : Diseminata Akut Epilepsi Wanita Usia Subur Klinis Patofisiologi , Diagnosis , Implikasi. 52(1).
Rumampuk, E., & Thalib, A. H. (2020). Efektifitas Terapi Nebulizer terhadap Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif pada Pasien Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK). Jurnal Mitrasehar, 10(2), 250–259. https://journal.stikmakassar.com/a/article/view/237/166
Samirah, S., Aryani, T., Ibrahim, M. A., & Izzatul, B. (2023). Therapy pattern of bronchodilators in chronic obstructive pulmonary disease ( COPD ) patients with acute exacerbations. 23, 224–227.
Sari, C. P., Hanifah, S., Annisa, Y., Farmasi, J., & Islam, U. (2021). Efektivitas Pengobatan Pada Pasien Penyakit Paru Obstruksi Kronis ( PPPOK ) di Rumah Sakit Wilayah Yogyakarta. 11(4), 215–227.
Sari, C. P., Hanifah, S., Rosdiana, R., & Anisa, Y. (2021). Efektivitas Pengobatan pada Pasien Penyakit Paru Obstruksi Kronis (PPOK) di Rumah Sakit Wilayah Yogyakarta. JURNAL MANAJEMEN DAN PELAYANAN FARMASI (Journal of Management and Pharmacy Practice), 11(4), 215. https://doi.org/10.22146/jmpf.56418
Downloads
Published
Issue
Section
License
Copyright (c) 2026 Zahraisyya Wardiani, Wulan Permata Dewi, Sekar Gumilang, Kheisya Ilza Rhomanti, Furqon Rizki Salam, Adilka Nurpadilah, Heri Ridwan

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.
Authors who publish with this journal agree to the following terms:
- Authors retain copyright and grant the journal right of first publication with the work simultaneously licensed under a Creative Commons Attribution License that allows others to share the work with an acknowledgement of the work’s authorship and initial publication in this journal.
- Authors are able to enter into separate, additional contractual arrangements for the non-exclusive distribution of the journal’s published version of the work (e.g., post it to an institutional repository or publish it in a book), with an acknowledgement of its initial publication in this journal.
- Authors are permitted and encouraged to post their work online (e.g., in institutional repositories or on their website) prior to and during the submission process, as it can lead to productive exchanges, as well as earlier and greater citation of published work (See The Effect of Open Access).


