GAMBARAN PEMERIKSAAN PENDENGARAN ANAK SPEECH DELAY DI RSUD HAJI KOTA MAKASSAR

Authors

  • Yarni Alimah Departemen Ilmu Kesehatan THT-BKL, Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin
  • Aswin Agus Departemen Ilmu Kesehatan THT-BKL, Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin
  • Shavira Shavira Departemen Ilmu Kesehatan THT-BKL, Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin

DOI:

https://doi.org/10.31004/jkt.v7i1.52273

Keywords:

BERA, keterlambatan bicara, OAE, pendengaran anak, uji tapis pendengaran

Abstract

Keterlambatan bicara pada anak merupakan masalah perkembangan yang sering dijumpai dan dapat berkaitan dengan gangguan pendengaran yang tidak terdeteksi secara dini, sehingga berpotensi memengaruhi perkembangan bahasa, kognitif, dan sosial anak. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan hasil pemeriksaan pendengaran serta karakteristik anak dengan keterlambatan bicara di Poliklinik THTBKL RSUD Haji Kota Makassar. Penelitian ini merupakan studi observasional analitik dengan desain potong lintang (cross sectional) yang menggunakan data sekunder rekam medis pasien periode September 2024 hingga September 2025. Populasi penelitian adalah anak dengan keterlambatan bicara, dengan jumlah sampel sebanyak 44 anak (88 telinga) yang diperoleh menggunakan metode total sampling sesuai kriteria inklusi dan eksklusi. Variabel penelitian meliputi usia, jenis kelamin, pola asuh, tingkat pendidikan orang tua, serta hasil pemeriksaan Otoacoustic Emission (OAE) dan Brainstem Evoked Response Audiometry (BERA), sedangkan analisis data dilakukan secara deskriptif menggunakan distribusi frekuensi dan persentase. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelompok usia terbanyak adalah anak berusia lebih dari lima tahun (43,2%). Sebagian besar anak diasuh oleh orang tua (75%) dan memiliki orang tua dengan tingkat pendidikan SMA (34,09%). Pemeriksaan OAE menunjukkan hasil PASS dan REFER yang seimbang pada masing-masing telinga (50%). Pemeriksaan BERA menunjukkan mayoritas telinga memiliki fungsi pendengaran normal (38,6%), diikuti oleh gangguan pendengaran derajat berat atau severe sensorineural hearing loss (23,94%). Simpulan penelitian ini menunjukkan bahwa meskipun sebagian besar anak dengan keterlambatan bicara memiliki fungsi pendengaran normal berdasarkan pemeriksaan BERA, masih ditemukan proporsi gangguan pendengaran yang bermakna, sehingga pemeriksaan OAE dan BERA tetap diperlukan sebagai bagian dari evaluasi dan deteksi dini keterlambatan bicara pada anak.

References

Alviandi, W. (2004). Deteksi Dini Gangguan Pendengaran dan Wicara. In Simposium Sehari Mengenal Keterlambatan Wicara Pada Anak. Jakarta.

Bussori, W., & Waggeler, M. N. (2004). How to investigate and manage the child who is slow to speak. BMJ, 328, 272–276.

Fieldman, H. M. (2005). Evaluation and management of speech language disorder in preschool children. Pediatrics in Review, 26(4), 131–134.

Guyton, A. C., & Hall, J. E. (2004). In I. Setyawan (Ed.), Buku Ajar Fisiologi Kedokteran.

Law, J. (1992). Factors associated with language impairment. In The Early Identification of Language Impairment in Children (pp. 1–18). Chapman and Hill.

Leblane, A. (2000). Atlas of Hearing and Balance Organs: A Practical Guide for Otolaryngologists. Springer.

Mashari. (2001). Faktor-faktor prognostic yang mempengaruhi prestasi belajar anak tuna rungu di SDLB Kalibayem. ORLI, 31(3), 19–25.

Mills, J. H., Kharilawa, S. S., & Weber, P. C. (2006). Anatomy and physiology of hearing. In B. J. Bailey, B. J. Bayron, & J. T. Johnson (Eds.), Head and Neck Surgery Otolaryngology (4th ed., pp. 1883–1903). Lippincott Williams & Wilkins.

Parker, S., Zuckerman, B., & Augustin, M. (2005). Developmental and Behavioral Pediatrics (2nd ed.). Language delay: Philadelphia: Lippincott Williams & Wilkins.

Ramin, A., & David, T. W. (2004). In R. E. B. Richard, R. K. M. Robert, & H. B. J. Hal (Eds.), Nelson Text Book of Pediatrics (18th ed., pp. 151–161). Philadelphia: Saunders.

Soedarmi, M. (1996). Pola penanganan penderita tuna rungu dan peran tympanometri dalam membantu menetukan derajat tuli. In Kumpulan Naskah Pertemuan Ilmiah Tahunan PERHATI (pp. 408–417). Batu, Malang.

Soetirto, H., Hendarmin, & Bashirudin. (2007). Gangguan Pendengaran dan Kelainan Telinga. In Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala dan Leher (6th ed., pp. 10–22). Balai Penerbit FK UI, Jakarta.

Soetjiningsih. (2002). Perkembangan anak dan permasalahannya. In N. B. M. Narendra, S. H. Sularyo, S. H. Soetjiningsih, S. H. Suyitno, & I. G. Ranuh (Eds.), Buku Ajar Tumbuh Kembang Anak dan Remaja (1st ed., p. 91). Jakarta: Ikatan Dokter Anak Indonesia, Sagung Seto.

Virginia, W., & Meredith, G. (1997). Gangguan bicara dan bahasa. In A. Adam & B. Highler (Eds.), Buku Ajar Penyakit Telinga, Hidung, Tenggorok (6th ed., pp. 3974–1010). Jakarta: EGC.

Woodson, G. E. (2006). Upper airway anatomy and function. In B. J. Bailey, B. J. Bayron, & J. T. Johnson (Eds.), Head and Neck Surgery Otolaryngology (4th ed., pp. 694–702). Lippincott Williams & Wilkins.

Zizlavsky, S. (2008). Gangguan Dengar Pada Bayi dan Anak. Deteksi Dini, Diagnosis dan Penanganan. In Simposium Telinga Sehat Menjamin Pendengaran yang Sempurna. Jakarta.

Downloads

Published

2026-03-31

Issue

Section

Articles