EKSPLORASI pH EKSTRAK UBI JALAR UNGU (IPOMEA BATATAS VAR AYAMURASAKI) DALAM UPAYA PENGEMBANGAN PENGGANTI GIEMSA
Keywords:
Pewarna Giemsa, pH ekstrak, ubi jalar unguAbstract
Pewarna Giemsa berfungsi untuk membedakan inti sel serta morfologi sitoplasma pada sel leukosit, eritrosit, trombosit dan parasit darah. Meskipun Giemsa paling banyak digunakan, penggunaannya memiliki keterbatasan, antara lain dalam proses penyerapan zat warna oleh granula sel-sel seri granulosit yang kurang optimal, serta larutan tersebut terdiri dari methylen blue, eosin, dan azur B yang tidak mudah hancur. Selain itu juga menghasilkan limbah berbahaya (toxic) dan bersifat mudah terbakar (flameable). Saat ini, sudah tinggi pemahaman publik mengenai bahan bersifat organik dan beralih menggunakan bahan yang bersumber dari alam yang tidak merusak lingkungan (eco-friendly). Oleh karena itu, diperlukan pewarna yang berasal dari bahan alam seperti ubi ungu yang kaya akan antosianin. Penelitian ini bertujuan ntuk mengetahui pemanfaatan ekstraksi ubi jalar ungu (Ipomea batatas var ayamurasaki) sebagai alternative pengganti pewarna giemsa dengan variasi pH. Penelitian ini menggunakan desain Eksperiment laboratorium dengan pendekatan kualitatif, Dimana ekstrak ubi ungu di atur pH nya menjadi beberapa tingkatan pH yaitu pH 4 sampai dengan pH 8 kemudian digunakan untuk mengamati sel-sel darah. Hasil Penelitian menunjukkan bahwa Konsentrasi 90% lebih terlihat jelas dibandingkan 80% dan pada pH 4 sampai dengan pH 8 tidak dapat mewarnai leukosit dan trombosit karena ekstrak yang dihasilkan kurang pekat. Hasil ini menunjukkan bahwa Ekstrak ubi ungu pada konsentrasi 90% di semua pH dapat digunakan sebagai pengganti pewarna Giemza dalam mewarnai SADT.References
Alternatif, P., Kol, E., & Brassica, U. (2018). Sari, A. N., & Masrillah, M. 367–372.
Ardina, R., & Rosalinda, S. (2018). Morfologi Eosinofil Pada Apusan Darah Tepi Menggunakan Pewarnaan Giemsa, Wright, dan Kombinasi Wright-Giemsa. Jurnal Surya Medika, 3(2), 5–12. https://doi.org/10.33084/jsm.v3i2.91
Badan Pusat Statistik Kota Ternate. (2013). Kota Ternate Dalam Angka 2013.
Fendri, S. T. juli. (2018). Pengaruh pH Dan Suhu Terhadap Stabilitas Antosianin Dari Ekstrak Kulit Ubi Jalar Ungu (Ipomoea Batatas (L.) Lam.). Chempublish Journal, 2(2), 33–41. https://doi.org/10.22437/chp.v2i2.4305
Iswara, A., Fakultas, A. K., Keperawatan, I., Kesehatan, D., Yuni, F., Wulandari, S., Widiyani, S. D., Semarang, M., Sitohistoteknologi, L., & Universitas, K. (2019). Caesar (Caesalpinia Extract) : Pewarna Alami Tanaman Indonesia PEN GIEMSA. Jurnal Labora Medika, 3, 45–49.
Mahfudhi, A. (2017). Pemanfaatan Kulit Ubi Jalar Ungu dengan Lama Perendaman Bahan Sebagai Indikator Asam Basa Alternatif dan Varias Pelarut yang Berbeda. Universitas Muhammadiyah Surakarta.
McKenzie, S. B. (2014). Clinical Laboratory Hematology. Pearson Education Inc.
Riswanto. (2013). Pemeriksaan Laboratorium Hematologi. Alfamedia.
Salnus, S., & Arwie, D. (2020). Ekstrak Antosianin Dari Ubi Ungu (Ipomoea Batatas L.) Sebagai Pewarna Alami Pada Sediaan Apusan Darah Tepi. Jurnal Media Analis Kesehatan, 11(2), 96. https://doi.org/10.32382/mak.v11i2.1771
Downloads
Published
Issue
Section
License
Copyright (c) 2025 Aan Yulianingsih Anwar, Galuh Nita Istiqomah, Rony Puasa, Febrianti Jakaria, Nikma Nikma, Artati Artati

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.
Authors who publish with this journal agree to the following terms:
- Authors retain copyright and grant the journal right of first publication with the work simultaneously licensed under a Creative Commons Attribution License that allows others to share the work with an acknowledgement of the work’s authorship and initial publication in this journal.
- Authors are able to enter into separate, additional contractual arrangements for the non-exclusive distribution of the journal’s published version of the work (e.g., post it to an institutional repository or publish it in a book), with an acknowledgement of its initial publication in this journal.
- Authors are permitted and encouraged to post their work online (e.g., in institutional repositories or on their website) prior to and during the submission process, as it can lead to productive exchanges, as well as earlier and greater citation of published work (See The Effect of Open Access).


