EKSPLORASI pH EKSTRAK UBI JALAR UNGU (IPOMEA BATATAS VAR AYAMURASAKI) DALAM UPAYA PENGEMBANGAN PENGGANTI GIEMSA

Authors

  • Aan Yulianingsih Anwar Jurusan Teknologi Laboratorium Medis, Poltekkes Kemenkes Ternate
  • Galuh Nita Istiqomah Jurusan Teknologi Laboratorium Medis, Poltekkes Kemenkes Ternate
  • Rony Puasa Jurusan Teknologi Laboratorium Medis, Poltekkes Kemenkes Ternate
  • Febrianti Jakaria Jurusan Teknologi Laboratorium Medis, Poltekkes Kemenkes Ternate
  • Nikma Nikma Jurusan Teknologi Laboratorium Medis, Poltekkes Kemenkes Ternate
  • Artati Artati Jurusan Teknologi Laboratorium Medis, Poltekkes Kemenkes Makassar

Keywords:

Pewarna Giemsa, pH ekstrak, ubi jalar ungu

Abstract

Pewarna Giemsa berfungsi untuk membedakan inti sel serta morfologi sitoplasma pada sel leukosit, eritrosit, trombosit dan parasit darah. Meskipun Giemsa paling banyak digunakan, penggunaannya memiliki keterbatasan, antara lain dalam proses penyerapan zat warna oleh granula sel-sel seri granulosit yang kurang optimal, serta larutan tersebut terdiri dari methylen blue, eosin, dan azur B yang tidak mudah hancur. Selain itu juga menghasilkan limbah berbahaya (toxic) dan bersifat mudah terbakar (flameable). Saat ini, sudah tinggi pemahaman publik mengenai bahan bersifat organik dan beralih menggunakan bahan yang bersumber dari alam yang tidak merusak lingkungan (eco-friendly). Oleh karena itu, diperlukan pewarna yang berasal dari bahan alam seperti ubi ungu yang kaya akan antosianin. Penelitian ini bertujuan ntuk mengetahui pemanfaatan ekstraksi ubi jalar ungu (Ipomea batatas var ayamurasaki) sebagai alternative pengganti pewarna giemsa dengan variasi pH. Penelitian ini menggunakan desain Eksperiment laboratorium dengan pendekatan kualitatif, Dimana ekstrak ubi ungu di atur pH nya menjadi beberapa tingkatan pH yaitu pH 4 sampai dengan pH 8 kemudian digunakan untuk mengamati sel-sel darah. Hasil Penelitian menunjukkan bahwa Konsentrasi 90% lebih terlihat jelas dibandingkan 80% dan pada pH 4 sampai dengan pH 8 tidak dapat mewarnai leukosit dan trombosit karena ekstrak yang dihasilkan kurang pekat. Hasil ini menunjukkan bahwa Ekstrak ubi ungu pada konsentrasi 90% di semua pH dapat digunakan sebagai pengganti pewarna Giemza dalam mewarnai SADT.

References

Alternatif, P., Kol, E., & Brassica, U. (2018). Sari, A. N., & Masrillah, M. 367–372.

Ardina, R., & Rosalinda, S. (2018). Morfologi Eosinofil Pada Apusan Darah Tepi Menggunakan Pewarnaan Giemsa, Wright, dan Kombinasi Wright-Giemsa. Jurnal Surya Medika, 3(2), 5–12. https://doi.org/10.33084/jsm.v3i2.91

Badan Pusat Statistik Kota Ternate. (2013). Kota Ternate Dalam Angka 2013.

Fendri, S. T. juli. (2018). Pengaruh pH Dan Suhu Terhadap Stabilitas Antosianin Dari Ekstrak Kulit Ubi Jalar Ungu (Ipomoea Batatas (L.) Lam.). Chempublish Journal, 2(2), 33–41. https://doi.org/10.22437/chp.v2i2.4305

Iswara, A., Fakultas, A. K., Keperawatan, I., Kesehatan, D., Yuni, F., Wulandari, S., Widiyani, S. D., Semarang, M., Sitohistoteknologi, L., & Universitas, K. (2019). Caesar (Caesalpinia Extract) : Pewarna Alami Tanaman Indonesia PEN GIEMSA. Jurnal Labora Medika, 3, 45–49.

Mahfudhi, A. (2017). Pemanfaatan Kulit Ubi Jalar Ungu dengan Lama Perendaman Bahan Sebagai Indikator Asam Basa Alternatif dan Varias Pelarut yang Berbeda. Universitas Muhammadiyah Surakarta.

McKenzie, S. B. (2014). Clinical Laboratory Hematology. Pearson Education Inc.

Riswanto. (2013). Pemeriksaan Laboratorium Hematologi. Alfamedia.

Salnus, S., & Arwie, D. (2020). Ekstrak Antosianin Dari Ubi Ungu (Ipomoea Batatas L.) Sebagai Pewarna Alami Pada Sediaan Apusan Darah Tepi. Jurnal Media Analis Kesehatan, 11(2), 96. https://doi.org/10.32382/mak.v11i2.1771

Downloads

Published

2025-12-30