ABSES PERITONSIL : MANIFESTASI KLINIS, DIAGNOSIS, DAN TATALAKSANA

Authors

  • Siti Raodatul Jannah Tunairin Program Studi Pendidikan Dokter, Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Mataram, Mataram, Indonesia
  • Eka Arie Yuliyani Program Studi Pendidikan Dokter, Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Mataram, Mataram, Indonesia
  • Imey Pinasty Harianto Putri Program Studi Pendidikan Dokter, Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Mataram, Mataram, Indonesia
  • I Putu Aryana Kusuma Putra Program Studi Pendidikan Dokter, Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Mataram, Mataram, Indonesia
  • Novanda Ayu Dila Putri Pambudi Program Studi Pendidikan Dokter, Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Mataram, Mataram, Indonesia

DOI:

https://doi.org/10.31004/jkt.v6i4.50366

Keywords:

abses peritonsil, diagnosis, infeksi, tatalaksana

Abstract

Abses peritonsil atau quinsy merupakan infeksi leher dalam yang paling sering terjadi dan umunnva muncul sebagai komplikasi tonsilitis akut. Penyakit ini ditandai oleh akumulasi pus pada ruang peritonsil yang dapat menimbulkan odinofagia, trismus, demam, dan risiko obstruksi jalan napas yang mengancam jiwa. Permasalahan utama pada kondisi ini adalah keterlambatan diagnosis dan penatalaksanaan yang dapat meningkatkan risiko komplikasi serius. Oleh karena itu, artikel ini bertujuan untuk meninjau secara komprehensif definisi, epidemiologi, etiologi, anatomi, patofisiologi, manifestasi klinis, diagnosis, tatalaksana, komplikasi, dan prognosis abses peritonsil. Artikel ini menggunakan metode tinjauan literatur sistematis melalui penelusuran database ilmiah  melalui PubMed, ScienceDirect Scopus, dan Google Scholar. Kriteria inklusi adalah artikel 10 tahun terakhir yang relevan dengan topik, dan data dikumpulkan dan dianalisis untuk memperoleh pemahaman komprehensif mengenai penyakit ini. Hasil telaah menunjukkan bahwa abses peritonsil umumnya disebabkan oleh Streptococcus dan Staphylococcus aureus. Diagnosis ditegakkan secara klinis dan dikonfirmasi dengan aspirasi jarum sebagai gold standard, serta dapat diperkuat dengan ultrasonografi atau CT scan. Penatalaksanaan meliputi drainase abses, pemberian antibiotik, terapi suportif, dan tonsilektomi pada kasus tertentu. Kesimpulannya, abses peritonsil merupakan infeksi serius yang membutuhkan diagnosis dini serta penanganan yang cepat dan tepat untuk mencegah komplikasi fatal dan meningkatkan prognosis pasien. Dengan pemahaman menyeluruh mengenai aspek klinis dan pilihan tatalaksana, tenaga kesehatan diharapkan mampu mengambil keputusan yang lebih tepat dan memberikan perawatan optimal bagi penderita.

References

Castagnini, L. A., Goyal, M., & Ongkasuwan, J. (2016). Tonsillitis and peritonsillar abscess. In

Infectious Diseases in Pediatric Otolaryngology: A Practical Guide (pp. 137–150).

Esposito, S., De Guido, C., Pappalardo, M., Laudisio, S., Meccariello, G., Capoferri, G., Rahman, S.,

Vicini, C., & Principi, N. (2022). Retropharyngeal, parapharyngeal and peritonsillar abscesses. Children, 9(5), 618. https://doi.org/10.3390/children9050618

Galioto, N. J. (2017). Peritonsillar abscess. American Family Physician, 95(8), 501–506.

Manojlovic, S. (2016). Abscess, peritonsillar. In M. Volavšek (Ed.), Head and Neck Pathology.

Encyclopedia of Pathology. Springer.

Marbun, E. M. (2016). Diagnosis, tata laksana dan komplikasi abses peritonsil. Jurnal Kedokteran

Meditek, 22(60), 42–47. https://doi.org/10.36452/jkdoktmeditek.v22i60.1445

Rahmah, A. N., Sangging, P. R. A., & Himayani, R. (2023). Diagnosis dan tata laksana abses peritonsil:

Sebuah tinjauan pustaka. Medical Profession Journal Lampung, 13(4.1), 129–133.

Tsai, Y. W., Liu, Y. H., & Su, H. H. (2018). Bacteriology of peritonsillar abscess: The changing trend

and predisposing factors. Brazilian Journal of Otorhinolaryngology, 84(5), 532–539.

Downloads

Published

2025-12-31