ABSES PERITONSIL : MANIFESTASI KLINIS, DIAGNOSIS, DAN TATALAKSANA
DOI:
https://doi.org/10.31004/jkt.v6i4.50366Keywords:
abses peritonsil, diagnosis, infeksi, tatalaksanaAbstract
Abses peritonsil atau quinsy merupakan infeksi leher dalam yang paling sering terjadi dan umunnva muncul sebagai komplikasi tonsilitis akut. Penyakit ini ditandai oleh akumulasi pus pada ruang peritonsil yang dapat menimbulkan odinofagia, trismus, demam, dan risiko obstruksi jalan napas yang mengancam jiwa. Permasalahan utama pada kondisi ini adalah keterlambatan diagnosis dan penatalaksanaan yang dapat meningkatkan risiko komplikasi serius. Oleh karena itu, artikel ini bertujuan untuk meninjau secara komprehensif definisi, epidemiologi, etiologi, anatomi, patofisiologi, manifestasi klinis, diagnosis, tatalaksana, komplikasi, dan prognosis abses peritonsil. Artikel ini menggunakan metode tinjauan literatur sistematis melalui penelusuran database ilmiah melalui PubMed, ScienceDirect Scopus, dan Google Scholar. Kriteria inklusi adalah artikel 10 tahun terakhir yang relevan dengan topik, dan data dikumpulkan dan dianalisis untuk memperoleh pemahaman komprehensif mengenai penyakit ini. Hasil telaah menunjukkan bahwa abses peritonsil umumnya disebabkan oleh Streptococcus dan Staphylococcus aureus. Diagnosis ditegakkan secara klinis dan dikonfirmasi dengan aspirasi jarum sebagai gold standard, serta dapat diperkuat dengan ultrasonografi atau CT scan. Penatalaksanaan meliputi drainase abses, pemberian antibiotik, terapi suportif, dan tonsilektomi pada kasus tertentu. Kesimpulannya, abses peritonsil merupakan infeksi serius yang membutuhkan diagnosis dini serta penanganan yang cepat dan tepat untuk mencegah komplikasi fatal dan meningkatkan prognosis pasien. Dengan pemahaman menyeluruh mengenai aspek klinis dan pilihan tatalaksana, tenaga kesehatan diharapkan mampu mengambil keputusan yang lebih tepat dan memberikan perawatan optimal bagi penderita.References
Castagnini, L. A., Goyal, M., & Ongkasuwan, J. (2016). Tonsillitis and peritonsillar abscess. In
Infectious Diseases in Pediatric Otolaryngology: A Practical Guide (pp. 137–150).
Esposito, S., De Guido, C., Pappalardo, M., Laudisio, S., Meccariello, G., Capoferri, G., Rahman, S.,
Vicini, C., & Principi, N. (2022). Retropharyngeal, parapharyngeal and peritonsillar abscesses. Children, 9(5), 618. https://doi.org/10.3390/children9050618
Galioto, N. J. (2017). Peritonsillar abscess. American Family Physician, 95(8), 501–506.
Manojlovic, S. (2016). Abscess, peritonsillar. In M. Volavšek (Ed.), Head and Neck Pathology.
Encyclopedia of Pathology. Springer.
Marbun, E. M. (2016). Diagnosis, tata laksana dan komplikasi abses peritonsil. Jurnal Kedokteran
Meditek, 22(60), 42–47. https://doi.org/10.36452/jkdoktmeditek.v22i60.1445
Rahmah, A. N., Sangging, P. R. A., & Himayani, R. (2023). Diagnosis dan tata laksana abses peritonsil:
Sebuah tinjauan pustaka. Medical Profession Journal Lampung, 13(4.1), 129–133.
Tsai, Y. W., Liu, Y. H., & Su, H. H. (2018). Bacteriology of peritonsillar abscess: The changing trend
and predisposing factors. Brazilian Journal of Otorhinolaryngology, 84(5), 532–539.
Downloads
Published
Issue
Section
License
Copyright (c) 2025 Siti Raodatul Jannah Tunairin, Eka Arie Yuliyani, Imey Pinasty Harianto Putri, I Putu Aryana Kusuma Putra, Novanda Ayu Dila Putri Pambudi

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.
Authors who publish with this journal agree to the following terms:
- Authors retain copyright and grant the journal right of first publication with the work simultaneously licensed under a Creative Commons Attribution License that allows others to share the work with an acknowledgement of the work’s authorship and initial publication in this journal.
- Authors are able to enter into separate, additional contractual arrangements for the non-exclusive distribution of the journal’s published version of the work (e.g., post it to an institutional repository or publish it in a book), with an acknowledgement of its initial publication in this journal.
- Authors are permitted and encouraged to post their work online (e.g., in institutional repositories or on their website) prior to and during the submission process, as it can lead to productive exchanges, as well as earlier and greater citation of published work (See The Effect of Open Access).


