PERBEDAAN JUMLAH LEUKOSIT PADA PASIEN GAGAL GINJAL KRONIK BERDASARKAN RUTINITAS HEMODIALISIS

Authors

  • Tursina Agung Derajat Program Studi Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti, Jakarta, Indonesia
  • Tjam Diana Samara Departemen Anatomi, Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti, Jakarta, Indonesia

DOI:

https://doi.org/10.31004/jkt.v7i1.48891

Keywords:

gagal ginjal kronik, hemodialisis, lekosit, rutin, tidak rutin

Abstract

Gagal ginjal kronik (GGK) adalah kondisi progresif di mana fungsi ginjal menurun secara signifikan dan tidak dapat dipulihkan. Hemodialisis (HD) merupakan salah satu terapi pengganti ginjal yang sering digunakan pada pasien GGK untuk menghilangkan sisa metabolisme dan menyeimbangkan elektrolit. Namun, terapi ini dapat memengaruhi sistem imun, termasuk kadar leukosit, yang berperan penting dalam inflamasi dan respons imun tubuh. Penelitian ini bertujuan untuk melihat apakah terdapat perbedaan jumlah leukosit pada pasien yang rutin maupun tidak rutin hemodialisis. Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional dengan pendekatan analitik observasional. Sampel penelitian terdiri dari 60 pasien GGK berusia 30-85 tahun, baik laki-laki maupun perempuan di RS Hermina Jatinegara. Sampel terbagi menjadi 30 pasien yang rutin menjalani HD dan 30 pasien tidak rutin. Rutin HD adalah pasien yang menjalani HD sembilan kali perbulan dalam tiga bulan berturut-turut. Data diambil dari rekam medis pasien dan dianalisis menggunakan uji statistik independent T-test. Rata-rata jumlah leukosit pada pasien yang rutin menjalani hemodialisis adalah 8.2767 ± 1.87519 (mean ± SD), pasien yang tidak rutin menjalani hemodialisis memiliki rata-rata leukosit 9.0070 ± 2.37903 /µL (mean ± SD). Hasil uji statistik menunjukkan tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara kedua kelompok (p = 0,192).  Simpulan dari penelitian ini adalah tidak ada perbedaan signifikan jumlah leukosit antara pasien GGK yang menjalani hemodialisis rutin dan tidak rutin tidak.

References

Amalia A., & Apriliani N.M. (2021). Analisis efektivitas single use dan reuse dialyzer pada pasien gagal ginjal kronik di RSUD Mardi Waluyo Kota Blitar. Jurnal Sains dan Kesehatan, 3(5):679–686.

Arub L.P., & Siyam N. (2024). Kejadian penyakit ginjal kronik pada penderita hipertensi. Journal of Public Healsth Research and Development, 8(1), 63–73.

Atziza R., et al. (2017). Perbedaan kadar limfosit pre dan post hemodialisis pasien gagal ginjal kronik. Jurnal Medika Profesi FK Unila, 7(4):37–41.

Brunner S. (2012). Buku ajar keperawatan medical bedah. 8th ed. Jakarta: EGC. Gultom M.D., & Sudaryo M.K. (2023). Hubungan hipertensi dengan kejadian gagal ginjal kronik di RSUD Dr. Djasamen Saragih Kota Pematang Siantar tahun 2020. Jurnal epidemology Kesehatan Komunitas, 8(1):40–47. http://doi.org/10.14710/jekk.v8i1.11722.

Hakim Y.A.H.,et al. (2016). The effect of hemodialysis on hemoglobin concentration, platelets count, and white blood cells count in end stage renal failure. International Journal of Medical Research and Health Sciences, 5(5):22–35.

Hall J.E. (2019). Guyton and Hall Textbook of Medical Physiology. 13th ed. Philadelphia: Elsevier.

Hapsari A.P. (2012). Perbedaan kejadian leukosituri antara penderita penyakit ginjal kronik stadium V dengan diabetes melitus dan tanpa diabetes melitus. Universitas Diponegoro.

Harun L., et al. (2023) Hubungan penderita diabetes melitus terhadap tingkat keparahan gagal ginjal kronik pada pasien yang menjalani hemodialisis di RS Banjarmasin, Journal of Nursing Invention, 4(1),:25–34. DOI: 10.33859/jni.v4i1.311.

Hutagaol E.F. (2017). Peningkatan kualitas hidup pada penderita gagal ginjal kronik yang menjalani terapi hemodialisa melalui psychological intervention di unit hemodialisa RS Royal Prima Medan tahun 2016. Jumantik, 2(1):42–59.

Hill N.R., et al. (2016) ‘Global prevalence of chronic kidney disease – A systematic review and meta-analysis’, PLoS One, 11(7). http://doi.org/10.1371/journal.pone.0158765.

Kaliwantoro H., & AlQadri S. (2019). Pengaruh jarak antar plate pada permeabilitas aliran biofluida pada permukaan membran permeable. Dinamika Teknik Mesin, 10(2):10–12.

Kartikasari N.D., et al. (2020). Hemoglobin, hematocrit, leukocyte, and platelet changes due to ultrafiltration hemodialysis in chronic kidney disease patients. Indones J Clin Pathol Med Lab, 26(3):340–343. https://doi.org/10.24293/ijcpml.v26i3.1565.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2023). Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor HK.01.07/MENKES/642/2017 tentang Pedoman nasional pelayanan kedokteran tata laksana penyakit ginjal tahap akhir.

Lolowang N.N.L, et al. (2021). Kualitas Hidup Pasien Gagal Ginjal Kronis dengan Terapi Hemodialisa. Jurnal Ilmu Perawatan Manado, 8(02):21–32. http://doi.org/10.47718/jpd.v8i01.1183.

National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases. (2023). Diabetes: overview and statistics. Bethesda: NIDDK.

Nugroho D. (2017). Perbedaan jumlah leukosit, limfosit dan neutrofil limfosit rasio pada pasien pre hemodialisa dan post hemodialisa. Journal of Chemical Information and Modeling, 53(9):1689–1699.

Perhimpunan Nefrologi Indonesia. (2017). Konsensus dialisis. Jakarta: PERNEFRI.

Pralisa K., et al. (2021). Gambaran etiologi penyakit ginjal kronik stadium V pada pasien rawat inap di RSUD Dokter Soedarso Pontianak tahun 2017–2018. J Cerebellum, 6(3):59.

http://doi.org/10.26418/jc.v6i3.45308.

Putri R.P. (2014). Hubungan angka leukosit dengan kualitas hidup penderita gagal ginjal terminal yang menjalani hemodialisa rutin di RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta. Doctoral dissertation, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.

Triswanti N., et al. (2021). Perbedaan jumlah leukosit pada pasien gagal ginjal kronik yang rutin dan tidak rutin menjalani hemodialisa di Rumah Sakit Pertamina Bintang Amin Bandar Lampung. Jurnal Ilmu Kedokteran dan Kesehatan, 8(2):96-101. http://doi.org/10.33024/jikk.v8i2.4072.

Downloads

Published

2026-03-24

Issue

Section

Articles