ANALISIS KERAWANAN DAERAH KEJADIAN DEMAM BERDARAH DENGUE (DBD) DI KECAMATAN LUMAJANG TAHUN 2025
DOI:
https://doi.org/10.31004/jkt.v6i3.48738Keywords:
Kejadian DBD, Analisis SpasialAbstract
Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan penyakit menular yang masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia. Penelitian ini bertjuan untuk menganalisa Tingkat kerawanan wilayah terhadap kasus DBD di Kecamatan Lumajang tahun 2022 – 2024 secara spasial menggunakan metode overlay dan buffer dalam Sistem Informasi Geografis (SIG). penelitian ini menggunakan data sekunder meliputi suhu udara, kelembapan, curah hujan, kepadatan penduduk, jumlah kasus DBD, dan radius jangkauan nyamuk vektor. Setiap indicator diberi skor dan diklasifikasikan untuk menentukan Tingkat kerawanan wilayah. hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor lingkungan yang dominan adalah suhu udara dan kepadatan penduduk. Terdapat empat Kelurahan dengan Tingkat kerawanan tinggi, yaitu Kepuharjo, Rogotrunan, Jogotrunan dan Tompokersan. Hasil pemetaan spasial memperlihatkan bahwa daerah-daerah tersebut berada pada zona tumpeng tindih risiko yang tinggi berdasarkan analisis buffer. Peta kerawanan ini dapat digunakan sebagai dasar intervensi dalam pengendalian penyakit DBD secara lebih terarah.References
Amalia, N. (2016). Kesehatan lingkungan dan penyakit tropis. Deepublish.
Apriyandika, H., Yulianto, E., & Feriandi, R. (2015). Hubungan kepadatan penduduk terhadap kejadian DBD. Jurnal Kesehatan Masyarakat, 10(2), 123–131.
Badan Standardisasi Nasional. (2004). Klasifikasi kepadatan penduduk. BSN.
Bintarto. (2021). Pengantar ilmu geografi. Pustaka Pelajar.
Ernyasih, E., Ramadhan, A. S., & Azhari, F. (2020). Faktor risiko usia terhadap kejadian DBD. Jurnal Ilmu Kesehatan, 12(1), 33–39.
Irwansyah, D. (2013). Pengantar sistem informasi geografis. Informatika.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2010). Petunjuk teknis penanggulangan DBD. Kemenkes RI.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2017). Profil nyamuk Aedes aegypti dan pencegahannya. Kemenkes RI.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2022). Profil kesehatan Indonesia 2022. Kemenkes RI.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2023). Gerakan 3M Plus dan pencegahan DBD. Kemenkes RI.
Kunoli, Y. (2013). Vektor penyakit tropis. Salemba Medika.
Kusuma, R., & Sukendra, D. M. (2016). Kepadatan penduduk sebagai faktor risiko DBD. Jurnal Ekologi Kesehatan, 15(3), 189–196.
Lowe, R., et al. (2018). Climate services for health: Predicting dengue outbreaks in the Caribbean. PLOS Neglected Tropical Diseases, 12(8), e0006788.
Marjuki, J. (2014). Sistem informasi geografis untuk pemula. Andi.
Mordecai, E. A., et al. (2017). Climate change could shift disease burden from malaria to arboviruses in Africa. PLOS Neglected Tropical Diseases, 11(10), e0005974.
Morin, C. W., Comrie, A. C., & Ernst, K. (2013). Climate and vector-borne diseases. Annual Review of Public Health, 34, 345–363.
Putra, R. D., et al. (2021). Analisis spasial penyakit DBD di wilayah tropis. Jurnal Kesehatan Masyarakat, 13(4), 327–336.
Ridha, N., et al. (2019). Faktor lingkungan yang mempengaruhi kejadian DBD. Jurnal Ilmiah Kesehatan, 11(2), 67–74.
Sazali, S., & Astuti, P. (2018). Siklus hidup Aedes aegypti. Jurnal Kesehatan Lingkungan, 10(1), 12–20.
Sugiyono. (2019). Statistik untuk penelitian. Alfabeta.
Tricahyono, D., & Dahlia, D. (2017). Sistem informasi geografis: Teori dan aplikasi. Graha Ilmu.
Trisnawati, L. (2025). Analisis kerawanan daerah kejadian demam berdarah dengue di Kecamatan Lumajang Kabupaten Lumajang (Skripsi, STIKes Widyagama Husada Malang).
Wahyono, T. Y., et al. (2019). Distribusi spasial DBD di Indonesia. Jurnal Epidemiologi Indonesia, 3(2), 76–84.
Wirayoga, K. W. (2013). Curah hujan dan kejadian DBD. Jurnal Kesehatan Lingkungan, 9(2), 55–62.
Wisner, B., Blaikie, P., Cannon, T., & Davis, I. (2022). At risk: Natural hazards, people’s vulnerability and disasters (2nd ed.). Routledge.
Wongkoon, S., et al. (2012). Weather factors influencing the occurrence of dengue fever in Nakhon Si Thammarat, Thailand. International Journal of Environmental Health Research, 22(6), 518–530.
Downloads
Published
Issue
Section
License
Copyright (c) 2025 Lydias Trisnawati

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.
Authors who publish with this journal agree to the following terms:
- Authors retain copyright and grant the journal right of first publication with the work simultaneously licensed under a Creative Commons Attribution License that allows others to share the work with an acknowledgement of the work’s authorship and initial publication in this journal.
- Authors are able to enter into separate, additional contractual arrangements for the non-exclusive distribution of the journal’s published version of the work (e.g., post it to an institutional repository or publish it in a book), with an acknowledgement of its initial publication in this journal.
- Authors are permitted and encouraged to post their work online (e.g., in institutional repositories or on their website) prior to and during the submission process, as it can lead to productive exchanges, as well as earlier and greater citation of published work (See The Effect of Open Access).


