FAKTOR STRATEGIS DALAM RETENSI TENAGA KESEHATAN DI WILAYAH TERPENCIL INDONESIA

Authors

  • Rasyid Araghani Naradhipa Program Studi Kesehatan Masyarakat, Fakultas Ilmu Kesehatan, Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta
  • Riswadi Wasir Program Studi Kesehatan Masyarakat, Fakultas Ilmu Kesehatan, Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta

DOI:

https://doi.org/10.31004/jkt.v6i2.44312

Keywords:

tenaga kesehatan, distribusi tenaga medis, retensi tenaga kesehatan, insentif tenaga kesehatan

Abstract

Penyediaan layanan kesehatan yang bermutu di daerah terpencil Indonesia, termasuk wilayah pedalaman, perbatasan, dan kepulauan, masih menghadapi tantangan serius akibat keterbatasan infrastruktur, jarak geografis, dan fasilitas yang tidak memadai. Masalah ini diperburuk dengan rendahnya retensi tenaga kesehatan yang disebabkan oleh beban kerja tinggi, insentif tidak kompetitif, dan minimnya dukungan sosial. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi pendekatan praktis yang dapat memperkuat mutu dan retensi tenaga kesehatan di daerah terpencil, dengan fokus pada strategi peningkatan insentif, perbaikan kondisi kerja, dan pelatihan yang relevan secara regional. Metode yang digunakan adalah literature review terhadap artikel yang diterbitkan tahun 2021-2025 dari basis data PubMed, ScienceDirect, dan Google Scholar dengan kata kunci terkait strategi peningkatan kualitas dan retensi tenaga kesehatan di daerah terpencil. Analisis dilakukan secara kualitatif menggunakan pendekatan analisis konten. Hasil penelitian mengidentifikasi lima faktor utama yang berpengaruh terhadap mutu dan retensi tenaga kesehatan: (1) insentif dan kompensasi, baik finansial maupun non-finansial; (2) pelatihan dan pengembangan karier yang disesuaikan dengan kebutuhan lokal; (3) dukungan sosial dari rekan kerja, keluarga, dan komunitas; (4) kebijakan pemerintah yang adaptif dan terintegrasi; dan (5) pemanfaatan teknologi seperti telemedicine dan e-learning. Kesimpulannya, upaya peningkatan mutu dan retensi tenaga kesehatan memerlukan pendekatan yang terintegrasi dengan melibatkan kolaborasi lintas sektor. Disarankan agar kebijakan yang dirancang mempertimbangkan kekhasan tantangan lokal serta mengintegrasikan sistem insentif, pelatihan berkelanjutan, dan dukungan sosial yang komprehensif untuk mewujudkan pemerataan layanan kesehatan yang berkelanjutan.

References

Arifin, N., et al. (2022). Strategi pemerintah dalam peningkatan kualitas kesehatan di daerah terpencil. Jurnal Kesehatan Wilayah Terpencil, 11(2), 145–158.

Astuti, L., et al. (2024). Peran dukungan sosial dalam retensi tenaga kesehatan di wilayah terpencil. Jurnal Psikologi Kesehatan, 22(1), 33–42.

Dwi, K., et al. (2023). Pengembangan program pelatihan di daerah terpencil. Jurnal Pelatihan Kesehatan Masyarakat, 5(1), 88–97.

Hidayati, C., et al. (2023). Retensi tenaga kesehatan di pedalaman Indonesia. Jurnal Manajemen Kesehatan, 15(1), 44–55.

Iskandar, J., et al. (2021). Keberhasilan program insentif untuk tenaga kesehatan pedesaan. Jurnal Kebijakan Kesehatan Indonesia, 9(3), 200–210.

Liu, I., et al. (2021). Challenges in retaining healthcare workers in remote regions. International Journal of Health Policy and Management, 10(4), 345–354.

Minister of Manpower Regulation. (2018). Regulation No. 5 of 2018 concerning safety and health. Jakarta: Ministry of Manpower Republic of Indonesia.

Patel, G., et al. (2022). Policy interventions for retention of health workers in developing countries. Global Health Policy Review, 14(2), 113–126.

Pramudito, O., et al. (2023). Efektivitas program insentif untuk tenaga kesehatan di daerah perbatasan. Jurnal Kesehatan Masyarakat Perbatasan, 10(1), 77–89.

Puspitasari Sari, H., et al. (2021). Strategi penguatan kualitas SDM kesehatan di wilayah terpencil. Jurnal Sumber Daya Manusia Kesehatan, 8(3), 256–267.

Rahmawati, F., et al. (2022). Meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan di pedalaman: Strategi peningkatan kualitas pelayanan di wilayah terpencil. Jurnal Layanan Kesehatan Daerah, 14(1), 10–21.

Rahmawati, F., et al. (2022). Pengaruh insentif terhadap retensi tenaga kesehatan di wilayah terpencil. Jurnal Kebijakan Kesehatan, 13(2), 78–90.

Saosa, M. (2013). Relationship between individual factors and work exhaustion in unloading worker at Manado Port [Undergraduate thesis, Universitas Sam Ratulangi]. Fakultas Kesehatan Masyarakat.

Sari, M., et al. (2021). Tantangan retensi tenaga kesehatan di daerah terpencil. Jurnal Kesehatan Daerah, 9(2), 123–134.

Setiawan, A., et al. (2022). Strategi pengelolaan tenaga kesehatan di daerah terpencil. Jurnal Kesehatan Masyarakat, 18(3), 312–322.

Suryani, G., et al. (2023). Pengaruh insentif terhadap kinerja kesehatan di daerah terpencil. Jurnal Ilmiah Kesehatan Terpencil, 7(2), 165–174.

Wijaya, I., et al. (2024). Analisis faktor retensi tenaga kesehatan di daerah terpencil. Jurnal Ilmu Kesehatan dan Manajemen, 11(1), 98–110.

Wijayanti, B., et al. (2021). Pelatihan berkelanjutan bagi tenaga kesehatan di wilayah terpencil. Jurnal Pendidikan Kesehatan, 19(2), 108–116.

Downloads

Published

2025-06-21

Issue

Section

Articles